Jumat, 07 November 2014

Purnama di Kampus Biru

Waktu menunjukkan pukul 18.15 ketika aku melangkahkan kaki keluar dari persembunyian ku sesore ini.  Sebuah tempat nyaman bernama perpustakaan.  Bergegas kuayun langkah menuju tempat parkir motor.  Di luar sudah gelap, tapi suasana masih ramai, banyak mahasiswa yang berolah raga di sekitar gedung utama kampus.

Perlahan kukendarai motor, sedang ada renovasi paving rupanya.  Entah apa yang membuat para pekerja itu masih bekerja sampai malam begini.   Mungkin mereka dikejar waktu.

Di langit bulan sudah meninggi.  Heiiii... purnama... indaaahhhh sekali.  Subhanalloh... piringan cahaya berkilauan itu membawaku ke masa silam.  Masa kecilku nan indah.  Ketika belum ada listrik yang masuk ke desaku.  Setiap purnama kami keluar dan berkumpul di halaman.  Menggelar tikar, mendengarkan sandiwara radio sambil bercanda riang.  Petak umpet adalah permainan wajib kami.  Indahnyaaaaa....

Purnama... aku ingat dulu orang tua kami selalu mengingatkan "hati-hati bila ada rembulan kalangan, itu tandanya ada orang yang melarikan diri dari penjara"

Purnama... aku juga ingat, betapa keakraban itu benar-benar terasa.  Betapa anak-anak dapat merasakan indahnya masa kanak-kanak mereka.   Dan saat itu juga para orang tua dapat memberikan wejangan-wejangannya.

Purnama... kau masih tetap sama dengan yang dulu.  Kamilah yang berubah.   Orang-orang tercinta satu demi satu meninggalkan kami, entah kapan giliranku.

Purnama... aku ingat ketika kecil aku suka menceritakan mimpi-mimpiku padamu.  Mimpi yang satu demi satu mulai dapat ku wujudkan.  Masih ingatkah kau purnama?  Ah, barangkali bukan cuma aku si pemimpi yang suka bercerita padamu.  Wajarlah kalau kau tidak mengingatnya, sedang aku pun hanya mengingat beberapa mimpi saja.

Tiba-tiba aku pun terhenyak... ah... mengapa aku masih di sini... mengapa aku malah berhenti dan sibuk memandangi purnama itu?
Sedangkan malam bergerak melarut.  Sepertinya orang-orang itu pun sepertiku, senang menikmati purnama.   Sudahlah... aku pulang saja... tidak baik perempuan di luar rumah malam-malam.

Purnama... berjanjilah... esok kau akan datang lagi untukku...

Salam,

Akar

Jumat, 17 Oktober 2014

PAGI CINTA

Selamat pagi cinta...
apa kabarmu hari ini?
cerialah...
ceritalah...
apapun itu...
aku kan di sini mendengarkanmu...

Hidup tak selamanya seindah yang kita inginkan
kehadiranmu melengkapi semuanya
tawa, tangis, marah, kecewa, bahagia...
bersamamu semua kurasakan

cinta...
ceritalah...
apa yang kau alami selama kau tak disisiku
ceritalah...
apa yang kau rasakan selama jauh dariku
ceritalah...
ceritalah...

cinta...
masih sudikah kau
duduk menemaniku
di restoran itu
aku pesan tawa dan bahagia
dan kau
entah memesan apa
maafkan aku cinta
bila aku seringkali terlupa
memesankan tawa dan bahagia untukmu

cinta...
masih sudikah kau
memberi penawar sakit dan luka
ketika aku terjatuh dan sakit
memberi segelas air
kala ku dahaga

cinta...
masihkah kau ada
kala ku membutuhkanmu?
masihkah kau sudi
mendengarkan jeritan, tangis dan tawaku
masihkah kau rela
membagi suka duka dan ceritamu
bersamaku?

Cinta....

Salam,

Akar



Minggu, 17 Agustus 2014

SYUKUR

Selalu ada "sesuatu" di balik sebuah kejadian.
Ketika kemarin saya terkena musibah "ciuman maut kelabang", saya tidak sempat berpikir apapun, bad or good.  Yang terpikir di benak saya dalam perjalanan menuju IGD hanyalah "bila ini teguran, semoga ini menjadi pengurang dosaku, dan bila aku boleh meminta, tolong jadikan racun binatang ini sebagai penyembuh penyakit-penyakitku".

Ketika orang lain berpikir mengenai efek si racun saya memilih berdo'a dalam diam.  Saya yakin ini bukan sebuah kebetulan.  Saya yakin pasti ada hikmah dibalik kejadian ini.
Ketika saya harus merasakan sakitnya suntikan (entah apa namanya, yang jelas suntikan ini terasa nyeri sekali) saya hanya bisa membaca istighfar, memohon ampun atas semua dosa.  Saya yakin tidak ada sesuatu yang diciptakan dengan sia-sia.
Ketika akhirnya saya merasakan efek racun tersebut tak lama setelah kembali dari IGD, pusing, mata berkunang-kunang dan pegel sampai di pundak, saya merasa inilah saatnya saya harus beristirahat, menjauh sejenak dari hingar bingar dan euforia 17-an.  Inilah salah satu cara-Nya mengingatkan hamba-Nya, tidak boleh berlebihan dalam hal apapun.
Ketika pada akhirnya Allah memberi kesembuhan, saya hanya dapat berucap Alhamdulillah.
Dan... "Alhamdulillah kelabang tersebut menggigit saya yang sudah kenyang dengan segala macam obat, suntikan dan tindakan operasi, saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika kelabang tersebut menggigit suami dan atau anak-anak saya".

Dan pada akhirnya semua semakin meyakinkan apa yang saya yakini "tidak ada yang namanya kebetulan dan tidak ada sesuatu apapun yang Allah ciptakan untuk sebuah kesia-siaan, semua sudah diatur dengan baik"

Allah... jadikan kami sebagai hamba-Mu yang selalu dapat bersyukur dalam kekurangan dan bersabar dalam kelebihan.

Dan... terima kasihku untuk orang-orang yang sudah membantu pada malam itu...
Allah... hanya Engkau yang dapat membalas kebaikan dan apa yang sudah mereka lakukan untukku...

Salam,

Akar



Home - Westlife

Home... just wanna say "I'm sure someday I'll be home"
Home... just wanna say "I always pray for home"
Home... just wanna say "Home is you"

http://youtu.be/DuFHaVJpcr4

Another summer day,
Has come and gone away,
In Paris and Rome,
I wanna go home,
Mmmmmm
Maybe surrounded by,
A million people I,
Still feel all alone,
I just wanna go home,
Oh I miss you, You know,
And I've been keeping all the letters,
That I wrote to you,
Each one a line or two,
I'm fine baby how are you,
Well I would send them but,
I know that it's just not enough,
The words were cold and flat,
And you deserve more than that,

Another aeroplane,
Another sunny place,
I'm lucky, I know,
But I wanna go home,
I've got to go home,
Let me go home
I'm just to far,
From where you are,
I've got to come home,
Let me go home,
I've had my run,
Baby I'm done,
I wanna come home,

And I feel just like,
I'm living,
Someone else's life,
It's like i just stepped outside,
When everything was going right,
And I know just why you could not come along with me,
'Cause this was not your dream,
But you always believed in me,

another winter day,
Has come and gone away,
In either Paris and Rome,
And I Wanna Go Home,
I miss you, You know,
Let me go home,
I've had my run,
Baby I'm done,
I wanna go home,
Let me go home,
It'll all be alright,
I'll be home tonight,
I'm coming back home.


Salam,

Akar

Kamis, 03 Juli 2014

Dalam Diam...

Kau pikir jarak ini akan membuatku berubah?
Tidak...
Kau pikir jarak ini akan membuat perasaanku berubah?
Tidak...
Kau pikir jarak ini akan membuat kita berbeda?
Tidak...

Jarak yang memisahkan kita...
Ibarat tembok rapuh... berlumut dan lemah...
Yang mempunyai celah...
Walaupun hanya sebuah celah kecil
untuk kita saling melihat
terlalu kecil untuk kita saling mengulurkan tangan
tetapi cukup besar untuk kita saling menatap...
dengan mata hati...
dalam setiap do'a...
dalam secercah harapan...
dalam sepercik mimpi...
dalam sujud panjang di malam sepi...

Yakinlah...
Allah akan memberi yang terbaik untuk kita...
indah...
pada waktunya....
kelak...

Walau tak selalu bersua...
Walau tak selalu bersapa...
Terlalu banyak kisah untuk diceritakan...
Sehingga kadang kita hanya diam...
Takbanyak cerita dalam perjumpaan...
ahhh...
Apalah jua artinya semua cerita itu...
Kadang hanya menyisakan syakwasangka dan keraguan...
biarlah...
kita nikmati saja apa yang ada...
diam dan nikmati perasaan ini...

Antara ada dan tiada...
Biarlah kita nikmati apa yang ada...
Rasa sakit...
Lelah...
Kesepian...
Rindu... *kuharap rasa ini selalu ada untukku*

Yakinlah...
Semua akan indah...
Pada waktunya...


*Untuk seseorang yang selalu ada untukku, walau terpisah jarak dan waktu*


Salam,

Akar

Kamis, 26 Juni 2014

Wonderland...

Bagaikan mimpi yang almost come true...
aku selalu memimpikan sebuah kafe buku.
sebuah tempat dimana si kutu buku menemukan surganya.
tanpa takut kelaparan dan kehausan.

sebuah tempat 
dimana buku berbaris rapi di rak yang tertata apik
dimana si hobi browsing dapat menjelajah dengan nyaman
dimana si penyendiri bisa larut dalam kesunyian

sebuah kafe buku
tempat nongkrong keluarga bertemakan buku
tempat sempurna untuk belajar
tempat sembunyi bagi yang ingin menyepi

jadi,
bagaimana konsep riilnya?
itulah...
aku hanya seorang pemimpi
belum tahu bagaimana mewujudkannya
sebuah taman bacaan eksklusif dengan fasilitas kafe
atau sebuah kafe dengan fasilitas taman bacaan?

ada sebuah tempat yang hampir mirip dengan tempat yang kuimpikan
yup... perpustakaan umum kampusku
gedung besar dengan banyak pengunjung
tapi... sunyi... tidak berisik...
bahkan untuk berbicara pun harus berbisik

ada fasilitas kantin walaupun sangat sederhana
hanya tersedia mie instan cup dan kopi instan (heiiii... mahasiswa bangettttt...)
dan sekedar snack dan minuman ringan
tapi...
paling tidak itu bisa menyelamatkan pengunjung dari lapar dan haus
fasilitas wifi yang nyaris sempurna
koleksi buku baik cetak maupun online yang membuat betah
bertahan sampai menit terakhir
toilet dan mushola pun tersedia rapi
benar-benar tempat sembunyi yang sempurna

hei...
mengapa baru sekarang aku menemukan "dunia kecil" ini?
kemana aja 10 bulan ini?
ada begitu banyak buku dan kemudahan akses ke dunia luar
dan aku melewatkannya?
bayangkan...
batas pinjaman 10 buku untuk 10 hari kerja...
wowwww.... kereennnn...

hei...
lihat...
dimana-mana orang membaca dan menjelajah...
di dalam ruangan, di luar ruangan, bahkan di taman...
sampai semalam ini masih ramai...
waktu sudah menunjukkan pukul 19.35...
what a wonderful life...
lebay !!!???
namanya juga perpustakaan perguruan tinggi negeri
terbesar di provinsi ini
terkenal di seantero negeri
pantaslah kalau seperti ini
ah...
apakah sesimple itu alasannya?
apakah di perguruan tinggi lain juga senyaman ini?
semoga...

seandainya saja perpustakaan ini buka 24 jam...
mungkin aku tidak perlu kost... :D

Salam,

Akar

Minggu, 01 Juni 2014

Someone From The Past

Jarum jam menunjukkan pukul 18.19, sesaat setelah saya memasuki kamar di tempat kost.  Baru saja saya meletakkan barang-barang bawaan terdengar nada tanda sms masuk.  Sebuah nomor asing.  "Asw, Mba gimana kabarnya?" sebuah sapaan hangat, to the point, langsung menyebut nama kecil, seolah dari seseorang yang sangat dekat dengan saya.  Saya cek daftar kontak di HP yang satu dan grup whatsapp, siapa tahu ada yang belum saya simpan di HP yang ini.
"Alhamdulillah, sae, nuwun sewu niki sinten njih?" sengaja saya balas dengan Bahasa Jawa setelah saya tidak menemukan nomor tersebut.
Dia menjawab dengan singkat, hanya menyebut nama pendek, sebuah nama yang umum, ada beberapa teman saya yang memiliki nama tersebut.
Entah mengapa saya tiba-tiba menyebut nama panggilan kesayangan saya pada salah seorang dari sekian nama yang sama tersebut.  Subhanalloh, dia membalas "Yeup".
"Ganti nomor?  Yang dulu nggak dipake?" tanya saya.  "Ada wa? Add me ya?" lanjut saya sambil memberi nomor wa saya.
"Iya, ganti nomor, yg dulu ga kepake, ga pake smartphone mbak" jawabnya.
"Ya dah sms aja, pa kabar dek? Lama gak nongol? Main ke Jogja to. Eh, FB mu gak aktif kah?"
"Iya, fbnya gak aktif, alhamdulillah msh diberi kesehatan. Lagi dicoba sama Allah, pengen main dan ketemu, tapi gak tau kapan bisanya"
"Ada apa? Mau cerita" tanya saya.
"Ceritanya panjang mbak, cerita 1 tahun lebih, kalo cerita di sms takutnya nggak nyambung, dan kalo telp takut nangis, sekarang aja ditanya sperti itu ga kuat" jawabnya
"Lha enake piye?  Aku telpon ya?" jujur saya nggak berani telpon tanpa seijinnya.
"Nanti aja mbak, aq yang telpon, jangan sekarang, rumit mbak".
"Oke, sing sabar ya cah ayu, apapun cobaannya semoga dapat meningkatkan derajatmu dimata Allah dan manusia. *Big hug*"
Itu sms terakhir saya.... tidak ada balasan.

Dek, dimanapun kau berada, semoga Allah selalu menyayangi dan melindungimu, dengan caraNya. Maafkan mbakmu yang tidak bisa selalu ada disampingmu.  Seandainya dekat, aku pasti akan mencarimu. Aku tau siapa dirimu dan aku sangat kehilangan ketika kamu tidak bisa aku kontak beberapa waktu yang lalu.  BB mu tak dihubungi, nomor HP mu pun sama, FB apalagi.  Ternyata ini jawabannya...

Dek, ingatlah, mbakmu ini sangat menyayangimu, bertahun-tahun kita hidup bersama, kau sudah menjadi bagian dari hidup mbakmu ini.  Bila kau sempat membaca tulisan ini, dan semoga sempat, ingatlah, aku berdoa untukmu, untuk kesehatanmu, untuk kebaikanmu, jangan menyerah dek.  Apapun itu.  Be tough. Tidak ada seorangpun yang tidak pernah mendapat cobaan.

Membaca nada sms mu aku tau dirimu sedang dalam tekanan yang hebat, entah apapun itu.  Sejenak muncul keinginanku untuk mencari tau ada apa gerangan dengan dirimu, tapi aku tak tau kemana akan mencarimu. 

Dek, baik-baik disana ya, jangan lupa berdoa, bila sudah siap bercerita mbakmu ini siap mendengarkan ceritamu, sepanjang apapun.  Mbak siap menampung air matamu, dan mbak akan berusaha menggantinya dengan tawa.  Ingat saat kita tertawa bersama dulu.  Dan aku masih saja tertawa bila ingat masa-masa itu. Bagaimana ngamuknya dirimu setiap aku bilang "tiba-tiba aku pingin makananmu, minta donk".  Tentu saja kau mengamuk karena kamu selalu berprinsip "save the best for last".  Apa yang kamu suka selalu menjadi hal terakhir yang kamu makan, jadi kalau aku minta makanan di akhir acara makanmu sama saja aku minta yang terbaik menurutmu...  Maafkan keisengan mbakmu ini ya dek...  Tapi bener dech, itu menjadi satu kenangan yang selalu kuingat.

Dek... teman-teman mencarimu, mereka juga menanyakan kabarmu padaku, tapi aku cuma bisa terdiam, karena aku pun tak tau kabarmu.  Kami sekarang berkumpul dalam 1 rumah bernama grup WA, tapi "rumah" itu terasa sepi tanpa dirimu dek.  Kamu dan beberapa teman yang dulu selalu menceriakan rumah kita.  Ingat Si Item dek?  Ingat kompor?  Aku ingat.  Apalagi bagian kamu dan teman-teman telpon "Mbak, datang donk, kompor kita minta dibersihin tuh" bila api kompor di rumah kita sudah merah dan aku tidak sempat mampir ke rumah itu.  Weks... jaman dulu kalian semena-mena sekali ya memperlakukan aku, dijadikan tukang bersih-bersih kompor, bahkan sudah pindah pun masih saja dipanggil... hanya untuk membersihkan kompor!!!  fiuhhhhh... tapi aku rela kok dek, dan itu bahkan jadi kenangan manis yang indah untuk dikenang dan diceritakan.

Dek... beneran... aku kangen sama kamu, kangen sama cerita-ceritamu, apapun itu.  Kapan ya kita bisa cerita-cerita lagi.  Semoga Allah memberi kesempatan pada kita untuk bertemu ya dek.  sehat selalu ya dek... semoga selalu dalam lindunga, berkah dan kasih sayang Allah, dan semoga Allah senantiasa memudahkan langkah-langkahmu dan memberi yang terbaik bagimu.





Salam sayang dari Jogja,

Akar

Jumat, 23 Mei 2014

Bertemu orang baru = semangat baru

Allah menjawab do'a-do'a kita dengan caraNya yang seringkali di luar dugaan kita.
Mempertemukan dengan orang baru salah satunya.  Hal yang tampaknya suatu kebetulan, tapi aku yakin inilah caraNya untuk membangkitkan kembali semangatku.
Merasa tak sendiri membuatku merasa berarti...
Merasa dipahami membuatku merasa dihargai...

Terima kasih...
Mungkin takkau sadari...
Pembicaraan singkat kita mengubah cara pandangku...
Memberi semangat dan kekuatan baru. ..
Aku harus bisa... aku pasti bisa...

Allah...
Terima kasih atas semuanya...
Atas suatu "kebetulan" yang menjawab kegundahanku...

Now... I'll be a new one... with a new spirit...

Semoga langkah ke depan lebih mudah dan ringan...

Salam,

Akar

Rabu, 30 April 2014

Kreativitas Anak

Menjadi seorang ibu adalah prestasi dan karier terbaik dalam hidup saya.  Panggilan Bunda atau Mamah (anak saya suka seenaknya memanggil saya, kadang bunda, kadang mamah, kadang ummi, padahal sama ayahnya mah tetep ayah, nggak pernah tuh mereka manggil ayahnya dengan papah atau abi) adalah panggilan terindah bagi saya.  Banyak tantangan untuk menjadi seorang ibu, terutama kreativitas.  Saya yang bisa dibilang sangat pas-pasan dalam pelajaran ketrampilan dan kesenian (sekarang namanya SBK ya) harus memutar otak untuk memenuhi keinginan anak-anak yang kadang tidak bisa terbeli, entah karena harga yang diluar jangkauan atau memang barangnya tidak ada di sekitar kami.
Waktu si Kakak TK dia minta baju untuk boneka barbienya karena baju-baju barbie nya sudah rusak.  Saya janjikan ke dia untuk dibelikan di Kliwonan (pasar rakyat setiap kamis wage sore alias malam jumat kliwon di alun-alun Batang).  Ternyata pedagang boneka dan asesories babrbie yang biasa jualan di bawah Pohon Beringin di tengah alun-alun Batang tidak jualan.  Si Kakak pun mulai manyun karena barbienya tidak mendapat baju baru.  Saya pun ingat di mall dekat alun-alun Pekalongan ada yang jual asesories barbie.  Saya pun kesana, apadaya, yang jualan sudah tidak buka lapak.  Si Kakak semakin manyun.  Akhirnya saya nekat mendatangi penjahit langganan saya dan minta kain perca yang lumayan bagus warna dan motifnya.  Pulangnya saya membawa sekantong kain perca dengan gembira.  dulu saya pernah membuatkan baju barbie juga tapi dengan kain baju saya yang sudah tidak terpakai (didaur ulang jadi baju barbie xixixiixxiiii).  Daaaannnn.... tadaaaa..... jadilah sebuah baju barbie ala kadarnya.... benar-benar ala kadarnya... jahit tangan, dengan perlengkapan seadanya.  Ini dia hasilnya... (ooppsss.... dilarang ketawa, saya akui, sangat...sangat...lucu dan ala kadarnya).


Tantangan kreativitas muncul lagi ketika saya menyadari bahwa kemampuan si Kakak dalam berhitung agak tertinggal dibanding yang lain.  Saya berusaha menerapkan metode klasik untuk berhitung dan bertahan untuk tidak mencari kursus semacam jarimatika atau sempoa.  Bukan masalah idealisme, tetapi saya ingin menanamkan dasar ilmu berhitung ke dalam pikiran anak-anak saya, sehingga mereka tidak selalu mencari cara instan.  Awalnya saya memakai lidi sebagai alat untuk menghitung (seperti dulu saya diajari sewaktu SD).  Ternyata lidi juga bisa berbahaya, karena anak-anak jaman sekarang jarang memakai lidi sebagai alat berhitung maka lidi yang awalnya digunakan untuk berhitung malah digunakan untuk bermain yang kadang malah membahayakan temannya.  Akhirnya saya ganti pakai sedotan yang dipotong-potong, tidak berbahaya dan ringan.  Ternyata saking ringannya sedotan tersebut beterbangan terkena sapuan angin dari kipas angin.  Bingung... pakai apalagi ya?  Finally... cotton bud jadi sasaran.  Anak saya pun mulai berhitung (penjumlahan dan pengurangan) dengan cotton bud.  Ketika ulangan umum tiba (besoknya) cotton bud itupun dibawa ke sekolah.  Apadaya, cotton bud itu malah dimintai teman-temannya untuk main.  Sampai di rumah saya tanya si Kakak "gimana berhitungnya kak?".  "Alhamdulillah bisa ma, tapi kakak nggak pakai cotton bud, cotton budnya dipakai untuk mainan sama teman-teman" jawab si Kakak.
weks.... jadi? "kakak pakai cara kakak sendiri ma, kakak buat garis-garis kecil di kertas kemudian kakak tambah kalau soalnya penjumlahan dan dihapus kalau soalnya pengurangan, gampang kan ma?" jawab si Kakak.  Gubraaaakkkkk....gampang katanya... kemarin aja bingung nggak bisa ngerjain.  Alhamdulillah, bila dilatih dengan telaten insya Allah anak akan menemukan jalannya sendiri.  


Si adek juga ternyata tidak mau kalah, "kalau adek menghitung dengan bantuan jari-jari kecil yang ada di samping jari kelingking" kata adek.  "mana jarinya dek? bunda nggak lihat" tanya saya.
"ah, mama nggak bisa lihat, cuma adek yang bisa lihat" jawabnya.
Dan.... inilah jawaban mereka ketika ditanya "siapa yang mengajari memakai cara itu?"..... Jawaban mereka sama " diajari pikiranku sendiri donk ma".... oopppsss... nggak boleh riya ya nak... tapi mamah bangga...


Gambar diatas adalah gambar si adek sedang membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali.  Umurnya waktu itu 3,5 tahun.

Yang ini si Kakak ingin memberi hadiah ulang tahun untuk tantenya berupa kue tart buatannya sendiri, akhirnya Bude Mieke pun turun tangan, dengan telaten mengajari si kakak (dan Mbak Nia) membuat kue tart.


Nah, ini karya si kakak ketika kelas 1 SD, critanya si kakak ingin membuat film kartun, karena belum bisa, akhirnya sandiwara boneka ala kartun pun bolehlah... kreatif kan?

Dan, dengan semua kreativitasnya, sekarang anak-anak saya tidak bercita-cita menjadi dokter atau polisi, mereka ingin menjadi guru sekaligus pemilik restoran.  

Kids.... Mama bangga pada kalian... sangat... kalian permata mama yang paling berharga...

Salam,

Akar

Jumat, 25 April 2014

SEINDAH BIASA

SEINDAH BIASA

SITI NURHALIZAH


Jalan pernah takut ku tinggalkan
Saat bintang tak mampu lagi berdendang
Saat malam menjadi terlalu dingin
Hingga pagi tak seindah biasanya

Reff:
Takkan mungkin kita bertahan
Hidup dalam bersendirian
Panas terit hujan badai
Kita lalui bersama

Saat hilang arah tujuan
Kau tahu ke mana berjalan
Meski terang meski gelap
Kita lalui bersama

Ku tak bisa merubah yang telah terjadi
Tapi aku akan menjanjikan yang terbaik
Agar kita tak pernah menjadi jauh
Meski beza dermaga untuk kita berlabuh

Ulang Reff

Pernah kita jatuh
Mencuba berdiri
Menahan sakit dan menangis
Tapi erti hidup lebih dari itu
Dan kita mencuba melawan

Salam,


Akar

Rabu, 23 April 2014

Mbak Rika...

Tiba-tiba saya teringat seorang teman lama, namanya Mbak Arika, kami memanggilnya Mbak Rika.  Beliau teman kost saya waktu kuliah di Bogor.  Usia beliau kira-kira 10 tahun diatas saya.  Beliau bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Surabaya, saat itu beliau berstatus Mahasiswa S2 di Univ Brawijaya yang sedang melakukan penelitian di Lab yang sama dengan saya, 1 dosen pembimbing.

Beliau seorang ibu dari 2 putri (saat itu) yang dengan sangat terpaksa harus beliau tinggalkan karena tuntutan studinya.  Beliau seorang yang tangguh, sangat tangguh.  Setiap Hari Jumat beliau selalu pulang, dan kembali ke Lab pada Hari Senin pagi.  Kebetulan lab kami berada tidak jauh dari pool Pahala Kencana. Jadi setiap jumat beliau ke lab dengan membawa tas perlengkapan pulang kampung karena bis berangkat jam 2 siang.  Beliau juga seorang yang ramah dan pekerja keras.  Selalu berangkat paling pagi dan pulang terakhir (setelah saya, setelah beliau selesai dari lab saya menjadi orang terakhir yang meninggalkan lab).  Jarak dari kost an kami ke lab kira-kira 30 menit sampai 1 jam perjalanan (Bogor-Cibinong terkenal macetnya), sehingga kami harus berangkat jam 6.30 dari kost an dan sampai di kost an lagi maghrib atau setelah maghrib).  Sesampai di kost an Mbak Rika langsung masuk kamar, tidur setelah isya dan bangun jam 1 atau jam 2, belajar.  Heiiiiii.... tanpa sadar saya sekarang mengikuti pola hidupnya... :)

Pada saat itu (1999-2000) telpon genggam adalah barang yang sangat mewah dan mahal, sehingga kami masih mengandalkan telpon rumah dan warnet.  Demikian juga Mbak Rika, tak jarang anaknya telpon hanya untuk sekedar melaporkan keberadaan mereka saat ini, kadang anaknya cerita mau ke rumah eyangnya, lain waktu cerita kalau badannya ndak enak.  Saat itu saya hanya bisa menatap dengan penuh kekaguman, kok bisa ya ada orang yang begitu kuat fisik dan mentalnya.  Fyi, dosen pembimbing kami menurut saya adalah orang yang paling cerewet dan killer (bila dibandingkan dengan dosen pembimbing saya di kampus yang begitu lembut dan keibuan), tetapi menurut Mbak Rika, beliau belum apa-apa dik, masih ada yang jauh lebih killer, nimati saja.  Alhamdulillah, ternyata benar kata Mbak Rika, finally, saya bisa juga menata hati saya untuk tidak menganggap dosen saya killer, justru saya berterima kasih karena dengan kekilleran beliau dan kelembutan dosen pembimbing 1 saya akhirnya saya bisa lulus dengan hasil yang sangat memuaskan.  Dulu saya senang sekali mendengar cerita-ceritanya, apa saja, tentang keluarganya, anaknya, perjalanannya, pekerjaannya, apa saja... 

Kembali ke Mbak Rika, takjarang Mbak Rika pergi ke warnet, sekedar untuk mengontrol keadaan anak-anaknya.  Subhanalloh, di tengah kesibukannya beliau masih sempat memikirkan anak-anaknya.  Helllloooowwwww.... penelitian Mbak Rika tergolong berat lho.  O, ya, kami melakukan penelitian di Lab Kultur Jaringan dan Genetika Puslibang Bioteknologi LIPI Cibinong.  Saya meneliti kultur jaringan Sengon dari tunas pucuk tanaman dewasa (4 dan 8 tahun) sedang Mbak Rika meneliti genetika (kalau tidak salah tentang granulasi/pengawetan apa gitu).  Hiks... kenangan yang indah untuk dikenang... walaupun waktu itu terasa sangat berat untuk dijalankan.

Sekarang saya kehilangan jejak Mbak Rika, terakhir saya telpon beliau ketika awal saya menjadi PNS (tahun 2003).  Kangeeeennnn sekali sama Mbak Rika, ingin sekali saya mengatakan "Mbak, dirimu benar-benar tangguh, saya yang hanya menempuh perjalanan 6 jam setiap minggu saja rasanya sudah mau tepar, njenengan setiap minggu menempuh perjalanan Bogor-Surabaya PP, bagaimana rasanya?"

Teruntuk kakak-kakak saya di Lab : Mbak Retno, Mbak Itha, Mbak NengNong eh Mbak Neneng alias Mbak Nancy, terima kasih atas semua bimbingannya... Kalian termasuk orang-orang yang membuat saya menjadi seperti sekarang...

Bila ada yang mengenal Mbak Rika, sampaikan salam saya kepada beliau, sampaikan saya salut padanya, dan tentu saja, saya kangen cerita-ceritanya, nasehat-nasehatnya.... beruntung sekali mahasiswanya memiliki dosen selembut dan sepandai beliau (hasil browsing saya menunjukkan kalau beliau sedang menempuh S3 di Univ Brawijaya.... hiks.... bisakah aku mengikuti jejakmu menempuh S3 mbak???)

Salam,

Akar

Selasa, 22 April 2014

Suara Hati Mama

Kadang saya berpikir apakah saya termasuk ibu yang menelantarkan keluarga?  Berkali-kali saya harus minta maaf kepada anak-anak karena berkali-kali pula mereka berada di posisi "harus mengerti mama" dan tidak ada pilihan lain selain "tunggu mama ada waktu ya nak".  Padahal saya tahu bahwa seharusnya orang tua lah yang harus mengerti anak-anaknya, bukan sebaliknya.
Seperti sekarang, sudah dari awal April mereka bilang bahwa mereka ingin mengirimkan bungkus indomilk ke undian Indomilk berhadiah piknik ke Legoland Malaysia.  Mereka sudah mencoba memasukkan bungkus indomilk tersebut ke amplop kecil dan amplop putih panjang tetapi tidak cukup.  Pada akhirnya si Kakak berinisiatif memasukkan bungkus-bungkus Indomilk itu ke dalam 2 amplop yang berbeda.  Saya tahu ini mereka lakukan karena tidak ingin merepotkan mamanya yang sedang sibuk dengan kuliahnya.  Ketika saya bilang "nggak bisa kak, harus dalam 1 amplop, nanti mama belikan amplop coklat besar ya" mata si kakak berbinar dan penuh harap bungkus-bungkus Indomilk itu segera terkirim.  Bungkus-bungkus Indomilk itu merupakan perwujudan dari harapan mereka akan dapat hadiah, walaupun kemungkinan dapat hadiah itu sangat kecil tapi paling tidak mereka masih memiliki harapan, sebuah kata yang sering kali tidak dimiliki oleh orang dewasa sekalipun.
Well.... janji tinggal janji... sampai hari ini, 2 kali saya pulang keinginan mereka belum terpenuhi.  Berkali-kali si Kakak mengingatkan "terakhir tanggal 30 april lho ma".  Kesibukan kuliah di semester akhir membuat saya tidak sempat pergi ke toko buku atau supermarket.  Kakak... maafin mama ya... mama kangeeeeennnn....
Finally... hari ini amplop itu pun terbeli sudah.  Semoga kakak dan adek senang dengan amplop ini.
Mungkin bagi orang lain masalah amplop ini adalah masalah sepele, tapi bagi saya tidak.  Ini masalah serius karena saya tidak ingin mematahkan semangat, kreativitas dan rasa percaya diri anak-anak saya.  Ketika mereka ingin berkreasi asal wajar kami (saya dan suami) akan berusaha memenuhinya.

Mungkin ada yang bertanya "mengapa bukan ayahnya yang membelikan?"
Fyi, suami saya jauh lebih sibuk daripada saya.  Pagi-pagi suami saya harus menggantikan peran saya menyediakan sarapan (karena saya jauh dari keluarga), kemudian mengantar anak-anak ke sekolah.  Pulang kerja suami saya kuliah sampai malam.  Tidak tega rasanya kalau saya masih harus membebani dia dengan hal-hal seperti ini.

Begitulah... semoga semua segera berakhir, kuliah saya segera selesai dengan hasil yang maksimal, tesis saya pun tidak banyak kendala.  Sehingga saya bisa mendampingi si Kakak ketika dia menerima buku pertama yang memuat karyanya.  Good news.... salah satu cerita karya si kakak akan diterbitkan bersama tulisan beberapa penulis cilik lainnya.  Impian kami satu demi satu menjadi kenyataan, semoga ayah dan adek juga segera dapat mewujudkan impian-impian mereka.  Allah, bantu kami....

Salam,

Akar

Rabu, 16 April 2014

Lelah...

Allah...
Banyak sekali yang ingin kucurahkan kepada Mu
Semua lelah diri ini
Semua kegundahan hati ini

Allah...
Biarkan kumenangis di hadapanMu
Biarkan ku luruh di bumiMu
Lepaskan semua beban di dada ini

Allah...
Peluk aku
Dekap aku
Erat

Allah...
Hanya Engkau yang mengetahui rahasia-rahasia hati ini
Hanya Engkau yang mengetahui kelemahan diri ini
Hanya Engkau yang mengetahui keinginan-keinginan jiwa ini

Allah...
Bantu aku
Jaga aku
Bimbing aku

Allah...
Biarkan kumenangis
Ratapi diri ini
Yang penuh dosa dan noda
Yang takmampu bertahan
Yang takmampu melawan

Allah...
Biarkan kumenangis...
Bantu aku...
Kuatkan aku...


HambaMU yang lemah,
Akar


Selasa, 15 April 2014

Mas Echa...

Kali ini saya ingin bercerita tentang keponakan yang tersayang.  Dia ponakan pertama saya, dan sudah seperti anak sulung bagi saya.  Sejak kecil dia sudah sering saya ajak kemana-mana, saya belikan mainan dan saya ajari berbagai permainan, ala cowok tentunya, mengingat keponakan saya itu cowok dan dulu saya juga lebih sering bergaul dengan dunia cowok.  Saya ajari dia memanjat tiang penyangga rumah sampai tinggi.  Waktu itu perasaan saya biasa-biasa saja, tetapi ketika sekarang anak saya memanjat tiang rumah Bapak (yang nota bene lebih besar) saya ketar ketir dan dengan tergopoh-gopoh menyuruh dia turun.  Kadang saya berpikir, mengapa waktu itu saya bisa "keras" dalam mendidik ponakan saya? noted : keras bukan berarti kasar, tapi penuh kasih sayang.  Apakah karena saya lebih sayang pada anak saya daripada ponakan? Ah, tidak juga.  Apakah karena sekarang saya sudah menjadi ibu dan dulu saya belum mempunyai jiwa keibuan? ah, rasanya nggak juga, sejak dulu ponakan saya lengket sama saya, kalau bukan karena saya memiliki jiwa keibuan bagaimana dia bisa begitu lengket sama saya? (GR.....)
Sekarang ponakan saya sudah SMP, dia mempunyai hobi yang menurutnya kereeeennnnn banget.  Dia ikut Bismania Community.  Hobinya memotret bis yang lewat dan nongkrong di garasi bis.  Pernah suatu ketika saya akan berangkat ke Jogja untuk mengurus pendaftaran di UGM, ponakan saya, o ya, namanya Echa ikut.  Baru kali ini saya melihat pandangan penuh cinta yang benar-benar seperti lupa segalanya. Dia memandang bis yang lewat dengan pandangan kagum, sesekali dia bilang "Om, dekati bis itu, aku mau memotretnya".

Karena banyak hal yang harus saya selesaikan, sampai sore kami tidak berhenti di tempat wisata manapun.  Aku lihat Echa cemberut.  Akhirnya saya bertanya "Mas Echa mau apa?"
Dengan wajah ditekuk dia berkata "Echa pengen ke tempat dimana banyak bis nongkrong"
Waduh.... maghrib-maghrib gini.... akhirnya kami menuju ke Malioboro... dan.... fiuhhhhh.... Echa berlari dengan gembira diantara bis-bis yang parkir di area parkir Abu Bakar Ali.  Saya dan suami harus berlari-lari mengejarnya dan sesekali menjadi juru fotonya.  duhaiiiii.... seandainya kecintaan dia bukan pada bis, tetapi pada buku atau al Qur'an.

Akhirnya kami pulang dengan senyum mengembang di wajah Echa.  Ini foto-foto Echa ku sayang dengan bis-bis tersayangnya.





Yah, itulah ponakan saya, mas bagi anak-anak saya, salah satu pelita hati saya.  Semoga menjadi anak yang sholih dan menjadi peneyejuk mata dan hati keluarga ya mas.

Salam,

Akar

Senin, 14 April 2014

Parenting (1)

Saya pernah mengikuti Seminar Parenting yang diisi oleh Ustadz Anwar Jufri Romli.  Sangat menarik.  Satu kesalahan saya saat itu adalah saya tidak membawa buku sehingga pada saat itu saya meminta ijin pada grup BB teman-teman seangkatan di Fahutan 32 untuk memposting inti dari seminar tersebut ke chat grup.

Hal penting yang harus diperhatikan untuk mendapat anak yang sholih adalah:
  1. Mencari ibu/ayah yang baik untuk anak tersebut
  2.  Membuat proposal seperti apa anak yang diinginkan, misalnya ingin anak yang pintar di bidang nuklir, sekaligus dibuat langkah-langkah apa yang akan ditempuh anak tersebut untuk meraih cita-citanya
  3. Bila sudah terlambat (anak sudah lahir) maka yang harus dilakukan adalah mendoakan.

Dalam hal do’a ternyata banyak orang tua yang salah mendoakan.  Kebanyakan orang tua di Indonesia mendoakan supaya anak-anaknya mudah mendapatkan pekerjaan.  Allah Maha Pengabul do’a.  Maka Allah akan mencarikan pekerjaan untuk anak tersebut.  Sedangkan orang Cina kebanyakan menginginkan anaknya menjadi pengusaha alias pembuka lapangan pekerjaan.  Allah Maha Pemberi Rejeki bagi siapapun, muslim maupun bukan.  Akhirnya Allah mempertemukan keinginan keduanya.... dan hasilnya.... banyak orang Indonesia menjadi TKI di Cina.

Kesalahan diatas membuat saya berpikir keras bagaimana cara menanamkan jiwa pemberi dan pembuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.  Jawabannya saya sarikan dari seminar parenting itu juga.
Ketika anak saya bertanya “ma, boleh aku menjadi dokter?”
Saya jawab “mengapa hanya menjadi dokter?  Mengapa tidak menjadi dokter yang sekaligus pemilik rumah sakit tersebut?” 
Sejenak anak saya bingung, kemudian saya beri penjelasan “kalau menjadi dokter maka adik dan kakak hanya menjadi dokter dan dibayar oleh pemilik rumah sakit, tetapi kalau adik dan kakak menjadi dokter sekaligus pemilik rumah sakit maka selain menjadi dokter, kakak dan adik justru akan membayari dokter lain yang bekerja di rumah sakit itu”.  Anak-anak pun tertawa lebar. 
*mungkin yang menjadi pertanyaan berikutnya “dari mana uang untuk membuat rumah sakit?”  Allah Maha Pemberi rizqi, bila kita sudah mengajukan proposal maka serahkan pada Allah, Dia yang akan mencukupkan dan menunjukkan jalannya.*

Dan setelah beberapa proposal cita-cita  diajukan dengan jawaban yang mirip seperti diatas, kakak dan adek kembali bertanya “Ma, bolehkah kami menjadi presiden?”  Untuk pertanyaan ini saya agak kesulitan, akhirnya “dengar ya, mama mau bercerita, di dalam rumah ini mama bertugas mengatur keuangan, nah misalnya suatu hari baju kerja ayah sobek, sepatu adek robek dan tas kakak rusak, padahal uang yang ada hanya cukup untuk membeli salah satu dari 3 barang tersebut.  Mama pasti bingung, ayah memerlukan baju untuk berangkat kerja, adek dan kakak membutuhkan tas dan sepatu untuk sekolah.  Nah, akhirnya mama lihat baju ayah bolongnya dimana? Oh, bolongnya di pundak dan tidak bisa diperbaiki, sepatu adek masih bisa disolkan dan tas kakak masih bisa dibetulkan di tukang reparasi tas.  Jadi, uang tersebut mama gunakan untuk membeli baju kerja ayah.  Nah, itu baru 3 orang yang butuh, bayangkan kalau seorang presiden, rakyatnya ada 200 juta lebih, semua minta kepada presiden, ada yang minta jalan diperbaiki, ada yang minta ternak dan lain-lain.  Kira-kira kakak dan adek bisa nggak mencari jalan terbaik untuk 200juta orang?”  Finaly....“Pusing ya ma?” kata anak-anak.

Beberapa hari kemudian mereka kembali berkata “Ma, sekarang cita-cita kami adalah kami akan membuka rumah makan dan toko roti, kakak akan memasak dan adek melayani pembeli”.

Sederhana.... tapi #jleb buat mama, akhirnya mereka bisa berpikir untuk membuka lapangan pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan.  Paling tidak sekarang anak saya mempunyai keyakinan bahwa pekerjaan bukan hanya menjadi dokter, polisi, tentara atau guru seperti cita-cita teman-teman mereka pada umumnya.  Yakinlah nak, tangan yang diatas jauh lebih baik daripada tangan yang dibawah.  Kalau bisa menjadi pemberi pekerjaan untuk orang lain di sekitar kita, untuk apa menjadi pencari kerja di tempat lain?  Walaupun posisi ayah dan mama kalian saat ini bukan pemberi lapangan kerja untuk orang lain, kami akan akan mendidik kalian supaya menjadi orang yang jauh lebih baik dari kami dan memberi manfaat lebih banyak bagi orang lain.  Dengan ijin Allah insya Allah semua akan tercapai :)

Salam,
Akar

Sabtu, 12 April 2014

Cerpen Karya Buah Hatiku

Cerpen ini tulisan anak sulungku si cantik dan sholehah penyejuk mata dan hatiku.... Athiya... Kelas 2 SDN Proyonanggan 11 Batang.... with no editing... Jadi kalau ada kesulitan dalam membaca mohon dimaafkan dan dimaklumi...
Salam, 
Akar

Fantastic night

Hallo nama ku Annisa rizki firdaus panggilan ku annisa
Aku bersekolah di sd islamic shcool kelas II
Aku mempu nyai empat sahabat yang bernama anni,vanis,
Lissa,dan feli.dari ke empat sahabat ku [semua]aku-
Di panggil nissa. teman dan guru ku disana juga memanggil-
Ku begitu.suatu hari aku dan teman teman merencanakan-
Sesuatu yaitu pesta menginap di rumah ku.kenapa di-
Rumah ku karena aku satu satu nya dari ke empat sahabat-
Ku yang mempu nyai kasur lipat lima.oke let’s go to story
Hari itu aku dan teman teman berkumpul di kantin –
Tempat faforit kami di sekolah .jadi kita kumpul jam berapa
Ujar vanis kepada ku h,mmm jam sebelas aja deh atau-
Seterah lah.horeee ujar ke empat sahabat ku.
Saat pulang
Asalamualaikum ummi annisa pulang.
Memang di lingkungan keluargaku aku di panggil annisa.
Eh anak ummi pulang.mi nan ti anni,vanis ,lissa,dan feli
Mau menginap di rumahku sampai besok lusa mi.
Kalau begitu kamu sekarang siapin kasur lipat oke-
Oke mi.di kamar aku segera menyiap kan lima kasur lipat-
Lima [biar lebih sopan karena kalau teman teman tidur-
Di bawah aku di atas kan tidak sopan]ting...tong ada-
Yang membunyi kan bel rumah ku.saat aku buka pintu nya-
Ada anni dan vanis hai nissa hai vanis... hai anni...ujar ku-
Sopan .eh lissa dan feli belum datang ujar ku-
Belum lissa bilang ngurusin adik nya dulu feli bilang-
Mau bantu ibu nya beres-beres rumah kata vanis.
Oooh begitu ujar ku ayo masuk ke kamar ku-
Oke ujar mereka berdua .tiba-tiba ...ting...tong bel-
Rumah ku ber bunyi lagi saat di buka ada lissa dan feli.
Eh cepet banget ujar ku. Hehehe tadi aku beres-beres rumah-
Habis pulang sekolah sih hehehe ujar feli.kalau aku...aku –
Pakai jurus cepat ngurusin adik ku hehehe.eh gimana tuh
Ujar ku .itu rahasia keluarga ku hehehe ujar lissa .huh
Ujar ku pura pura marah.
Malam ke satu dan kedua berjalan dengan baik kecuali-
Malam ketiga. hari ini aku dan teman-teman tidur jam tujuh-
[biar lebih cepat hehehe...]duh...aku nggak bisa tidur nih friends ujar ku pada teman-teman ku.aku punya ide ujar -vanis. apaan  tuh Nis.malam yang mbosenin ini jadi –
Fantastic night.hah apaan tuh fantastic night ?
Fantastic night itu MALAM YANG MENAJUB KAN masak-
Nggak tau KAN SUDAH DI AJARIN ustadah tiana ujar vanis -pura-pura galak[sambil teriak lagi hehehe...]pssst...ummi dan abi ku lagi tidur  ujar  ku pada vanis.hehehe maaf ya nissa
Hehehe...vanis memang nggak apa-apa kalau kita besok-
Pagi kita terlambat bangun gimana?tenang lis besok-
Kan masih libur .oke lah kalau begitu ayo kebetulan masih-
Jam tujuh lewat tapi  sampai jam berapa?sampai-
Jam sepuluh deh .mau tau kegiatan apa yang kami-
Laku kan?kegiatan yang kami lakukan adalah:piknik di -kamar,main boneka,lomba baca cerita[aku dan vanis jadi juri nya siapapun dari lissa,anni,dan feli yang cerita nya lebih –bagus jadi juara deh]dan lain-lain.

Benar-benar fantastic night yang wonderfull.


nb. Dalam foto diatas si cantikku berjilbab pink membawa piala

Rabu, 02 April 2014

kini - rossa -

Kemarin di TV ada lagu yang rasanya tidak asing di telinga saya, tapi dinyanyikan oleh Marcel.
Ternyata... lagu Rossa yang didaur ulang.... masih enak didengar....
Ini lagunya....

Salam,
Akar

KINI

kusadari....
semua jalanku....
takberarah kepadamu
mungkin salah
diri ini memikirkanmu
aku kini tlah berdua

dan tak seindah cinta yang lalu
yang jalan dan jalin tanpa restu
kuakhiri namun takberakhir
kuhindari hati tak ingin terpisah

bila kau dengan yang lain
sesungguhnya ku tak rela

Selasa, 25 Maret 2014

Antara Bogor dan Yogyakarta

Noted : ini hanya opini saya dan berdasarkan apa yang saya rasakan.

Alhamdulillah Allah memberi saya kesempatan untuk mengenyam pendidikan di 2 perguruan tinggi top di Indonesia (semua juga pasti memuji tempat dia kuliah donk - red).  S1 saya di Institut Pertanian Bogor (IPB), sebuah perguruan tinggi yang terkenal sebagai kampus hijau dan kental dengan nilai-nilai Islami (jaman saya dulu, entah kalau sekarang).  Kemudian S2 saya diberi kesempatan merasakan nikmatnya keberagaman atau istilah kami "miniatur Indonesia" di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta yang (menurut saya) benar-benar mencerminkan Indonesia.

Bila diibaratkan dengan susunan warna, maka IPB bisa saya katakan sebagai gradasi warna hijau sebagai warna dominan, disamping warna lain yang tetap ada.  Saya katakan gradasi warna hijau karena "hijau" nya beraneka ragam, alias ada bermacam-macam aliran, organisasi atau mahzab Islam yang berkembang di kalangan mahasiswa.  Yang saya tahu saja ada Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Salafi, Muhammadiyah dan NU sudah pasti, bahkan konon kabarnya NII juga ada, tapi saya belum pernah bertemu dengan orang-orangnya secara langsung.

Sedangkan di UGM, benar-benar pelangi, yang agamis Islam ada, yang sekuler banyak, organisasi agama lain juga berkembang, yang sekedar jadi mahasiswa saja pun banyak.  Eh, kalo yang terakhir mah hampir di semua perguruan tinggi ada ya, termasuk saya di dalamnya.

Untuk kost-kost an pun beda jauh antara di Bogor dan Yogya eh Jogja.  Di Bogor banyak kost-kost an yang khusus menerima penganut agama tertentu, misalnya khusus muslimah, sedangkan di Jogja yang ada hanya tulisan "khusus wanita".  Saya termasuk yang mengalami kesulitan untuk mencari kost-kostan yang khusus muslimah sehingga 2 kali pindah kost an dapatnya yang campur dengan penganut agama lain.  Ya sudahlah... mungkin ini saatnya saya mencoba imunitas saya.  Walaupun jadi agak ribet bin repot karena saya harus selalu memakai jilbab ketika keluar kamar, bahkan untuk ke kamar mandi.

Weks.... time is up... saya harus siap-siap kuliah dulu... off dulu.... lanjut lagi kalau sudah ada waktu lagi.... see yaaaaa....



Salam,

Akar

Sabtu, 08 Maret 2014

Zuhud

Duhai....
Dimanakah gerangan engkau...
yang dulu selalu mengajarkan konsep zuhud padaku...
yang selalu mengingatkanku untuk selalu qona'ah...
yang selalu mengingatkanku untuk selalu melihat ke bawah untuk urusan dunia,
dan melihat ke atas untuk urusan akhirat.

Duhai...
kemanakah gerangan semua keyakinan itu...
mengapa sekarang jauh berbeda?

Dulu...
kalian selalu mengatakan betapa zuhudnya baginda nabi...
tidak setiap hari dapurnya mengepul
pertanda tidak ada makanan yang dimasak di rumahnya
pertanda hari itu beliau dan keluarganya berpuasa

Bahkan...
ketika istri-istri beliau meminta tambahan nafkah
beliau hanya bisa terdiam
karena beliau tidak sanggup meminta harta dunia kepada Allah
dan akhirnya beliau memberi pilihan
take it or leave it?
tetap bersamanya dalam kezuhudan
atau diceraikan...
istri-istri yang mulia...
memilih tetap bersama dalam kezuhudan
dan mereka tetap berbahagia
hidup mulia

Sekarang...
kalian berkata "Abdurrahman bin Auf dan Ustman bin Affan adalah sahabat yang kaya"
sedangkan para sahabatpun tetap dalam kezuhudan walaupun mereka kaya

Duhai....
Kalian pun berkata "kita juga harus bisa kaya supaya bisa bersedekah lebih banyak"
Apakah untuk bersedekah harus memiliki banyak harta dulu?
sedekah ketika kaya adalah biasa
sedekah ketika dalam keterbatasan adalah luar biasa
bahkan istri nabi dan Fatimah yang hidup dalam kekuranganpun tetap bisa bersedekah

Kalian juga berkata "kita harus kaya supaya bisa masuk ke segala lapisan masyarakat?"
seandainya nabi berprinsip sama dengan kalian
niscaya nabi akan menjadi orang yang paling kaya
tapi....
lihatlah....
nabi kita menjadi orang yang hidup dalam kekurangan
karena dengan segala kekurangan itu beliau dapat merasakan derita umatnya
dengan kezuhudannya nabi dapat menjadi contoh bagi umatnya
bahwa beliau dapat menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam keadaan apapun
bahkan dalam kekurangan sekalipun

Duhai...
nabi pun seorang ahli bisnis...
tetapi nabi tidak mementingkan bisnis diatas dakwah

Sekarang...
kalian berlomba-lomba menjalankan bisnis
hidup dengan berbagai simbol kekayaan
dengan berbagai alasan

Seperti itukah yang harus kami lakukan sekarang?
mengikuti jejak kalian
melupakan zuhud dan qona'ah
mengambil hedonis sebagai jalan hidup

Itukah tanda sayang kalian kepada Rasulullah?

Salam,

Akar

Jumat, 28 Februari 2014

Akar Rumput

Akar...
Satu bagian terpenting dari sebuah tumbuhan.
Tanpa akar tumbuhan tidak akan bisa hidup.
Akarlah yang menopang semua bagian tumbuhan.
Akar pula yang mencari bahan makanan, sedangkan daun hanya menjadi tempat pengolahan makanan.
Dengan fungsi yang demikian vital dapat dibayangkan bagaimana sebuah tumbuhan dapat hidup tanpa akar.

Rumput...
Merupakan tumbuhan kecil.
Bukan pionir kehidupan di suatu tempat
Karena pionirnya adalah lumut.
Tetapi, rumput dapat hidup di sebuah tempat yang marginal sekalipun.
Rumput yang kecil dan sering kali diinjak-injak merupakan penjaga struktur tanah.

Akar Rumput...
Biarlah tetap menjadi akar rumput...
Penopang hidup serumpun rumput, sang penopang tanah.
Demikianlah posisi dan kehidupan yang kupilih,
Bukan menjadi pucuk Pohon Kelapa yang menjulang tinggi namun rapuh,
mudah terbawa kemana angin bertiup.
Bukan menjadi bunga yang indah nan wangi,
tetapi hanya sekali berarti kemudian mati

Biarlah aku menjadi akar rumput
yang kecil tersembunyi di dalam tanah
tidak nampak namun sejatinya ada....

Salam,
Akar

Sesuatu Yang Hilang

Sejak kecelakaan di depan gang menuju ke kost an akhir tahun yang lalu, saya sedikit trauma untuk menyeberang jalan di depan gang.  Fyi, gang dimana kost an saya berada menghubungkan 2 jalan besar di Yogyakarta yaitu Jalan Kaliurang atau lebih beken dengan jakal dan Ring Road Utara.  2 jalan yang fully crowded, terutama jakal.
Oleh karena itu, setiap pulang kampus saya melewati jalan kampung yang sebenarnya agak memutar dan membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama.  Jalan itu sebenarnya juga ramai tetapi tidak sepadat jakal.  Ketika pertama melewati jalan itu saya juga merasa agak jenuh dan ngeri karena di beberapa tempat sepi dan gelap di waktu malam.
Tetapi lama kelamaan saya menemukan sesuatu yang baru.  Saya baru menyadari ternyata ada yang kurang dari diri saya selama berada di Kota Yogya ini.  Di sini saya hampir tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.  Hati saya serasa mengeras dan muka saya semakin lama semakin kaku.  Hal ini saya sadari ketika pada suatu sore saya melewati sekelompok ibu-ibu yang berkumpul ngobrol di pinggir jalan yang akan saya lewati.  Saya pun menyapa mereka seperti kebiasaan saya ketika di kota asal saya.  
Setelah itu saya merasakan sesuatu mengembang di dada saya....kebahagiaan dan keceriaan...  Ternyata inilah yang hilang dari diri saya.  Terlalu lama berkutat dengan setumpuk buku, diktat dan paper membuat hati saya mengeras, pikiran saya terus menerus terpacu dan muka saya menjadi kaku karena otot-otot pipi jarang saya pakai untuk tersenyum dan menyapa.
Alhamdulillah tempat kost saya yang sekarang berada di suatu tempat yang bisa dibilang bukan murni kompleks kost-kostan, masih banyak penduduk Yogya di sekitar saya.  Sehingga bila saya ingin sekedar bersilaturahmi dan bertegur sapa saya tinggal keluar menuju warung pecel atau tukang laundry dan saya bisa menemukan obrolan penuh keakraban khas Yogya.
Ternyata banyak hikmah yang dapat saya ambil dari sebuah kecelakaan.


Salam,

Akar

Kamis, 27 Februari 2014

mukadimah

Sebagai seorang ibu yang sekaligus menjadi mahasiswa dengan status karya siswa alias penerima beasiswa saya dituntut untuk menyeimbangkan beberapa peran sekaligus, ibu, istri dan mahasiswa.  Saya yakin saya bukanlah satu-satunya orang yang mengalami kondisi seperti ini, saya juga yakin ada orang lain di luar sana, bahkan mungkin banyak, yang mempunyai beban jauh lebih berat daripada saya.  Saya salut kepada mereka.

Hal terberat yang harus saya alami adalah ketika suami dan atau anak sakit.  Kondisi ini membuat saya berada pada posisi yang sangat sulit karena saya melanjutkan studi di luar kota dengan perjalanan sekitar 5-6 jam dengan perjalanan darat.  Kerumitan terjadi ketika suami dan anak sama-sama sakit dan berbarengan dengan seabrek tugas kelompok yang sudah diambang deadline.  Bila saya memutuskan tinggal di rumah dan berkonsentrasi mengurus keluarga maka saya mendzolimi teman-teman saya, tetapi bila saya memutuskan meninggalkan keluarga dan berangkat ke kota tempat saya kuliah maka saya mendzolimi keluarga saya.  Begitulah.... saya harus bisa mengoptimalkan kedua hal tersebut.  Dan sungguh.... berrraaaatttttt sekali rasanya.  Saya ingin segera mengakhiri dilema ini, saya ingin segera meninggalkan bangku kuliah, apadaya, kuliah masih akan berlangsung sampai bulan juni mendatang.  Semoga ke depan tidak ada halangan lagi dan saya dapat menyelesaikan semua mata kuliah dan tesis dengan hasil yang maksimal.

Saat ini yang paling saya butuhkan adalah dukungan, do'a dan semangat dari belahan jiwa saya, pasangan sayap saya yang tercinta dan buah hati kami....


Salam,

Akar