Selasa, 25 Maret 2014

Antara Bogor dan Yogyakarta

Noted : ini hanya opini saya dan berdasarkan apa yang saya rasakan.

Alhamdulillah Allah memberi saya kesempatan untuk mengenyam pendidikan di 2 perguruan tinggi top di Indonesia (semua juga pasti memuji tempat dia kuliah donk - red).  S1 saya di Institut Pertanian Bogor (IPB), sebuah perguruan tinggi yang terkenal sebagai kampus hijau dan kental dengan nilai-nilai Islami (jaman saya dulu, entah kalau sekarang).  Kemudian S2 saya diberi kesempatan merasakan nikmatnya keberagaman atau istilah kami "miniatur Indonesia" di Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta yang (menurut saya) benar-benar mencerminkan Indonesia.

Bila diibaratkan dengan susunan warna, maka IPB bisa saya katakan sebagai gradasi warna hijau sebagai warna dominan, disamping warna lain yang tetap ada.  Saya katakan gradasi warna hijau karena "hijau" nya beraneka ragam, alias ada bermacam-macam aliran, organisasi atau mahzab Islam yang berkembang di kalangan mahasiswa.  Yang saya tahu saja ada Tarbiyah, Hizbut Tahrir, Salafi, Muhammadiyah dan NU sudah pasti, bahkan konon kabarnya NII juga ada, tapi saya belum pernah bertemu dengan orang-orangnya secara langsung.

Sedangkan di UGM, benar-benar pelangi, yang agamis Islam ada, yang sekuler banyak, organisasi agama lain juga berkembang, yang sekedar jadi mahasiswa saja pun banyak.  Eh, kalo yang terakhir mah hampir di semua perguruan tinggi ada ya, termasuk saya di dalamnya.

Untuk kost-kost an pun beda jauh antara di Bogor dan Yogya eh Jogja.  Di Bogor banyak kost-kost an yang khusus menerima penganut agama tertentu, misalnya khusus muslimah, sedangkan di Jogja yang ada hanya tulisan "khusus wanita".  Saya termasuk yang mengalami kesulitan untuk mencari kost-kostan yang khusus muslimah sehingga 2 kali pindah kost an dapatnya yang campur dengan penganut agama lain.  Ya sudahlah... mungkin ini saatnya saya mencoba imunitas saya.  Walaupun jadi agak ribet bin repot karena saya harus selalu memakai jilbab ketika keluar kamar, bahkan untuk ke kamar mandi.

Weks.... time is up... saya harus siap-siap kuliah dulu... off dulu.... lanjut lagi kalau sudah ada waktu lagi.... see yaaaaa....



Salam,

Akar

Sabtu, 08 Maret 2014

Zuhud

Duhai....
Dimanakah gerangan engkau...
yang dulu selalu mengajarkan konsep zuhud padaku...
yang selalu mengingatkanku untuk selalu qona'ah...
yang selalu mengingatkanku untuk selalu melihat ke bawah untuk urusan dunia,
dan melihat ke atas untuk urusan akhirat.

Duhai...
kemanakah gerangan semua keyakinan itu...
mengapa sekarang jauh berbeda?

Dulu...
kalian selalu mengatakan betapa zuhudnya baginda nabi...
tidak setiap hari dapurnya mengepul
pertanda tidak ada makanan yang dimasak di rumahnya
pertanda hari itu beliau dan keluarganya berpuasa

Bahkan...
ketika istri-istri beliau meminta tambahan nafkah
beliau hanya bisa terdiam
karena beliau tidak sanggup meminta harta dunia kepada Allah
dan akhirnya beliau memberi pilihan
take it or leave it?
tetap bersamanya dalam kezuhudan
atau diceraikan...
istri-istri yang mulia...
memilih tetap bersama dalam kezuhudan
dan mereka tetap berbahagia
hidup mulia

Sekarang...
kalian berkata "Abdurrahman bin Auf dan Ustman bin Affan adalah sahabat yang kaya"
sedangkan para sahabatpun tetap dalam kezuhudan walaupun mereka kaya

Duhai....
Kalian pun berkata "kita juga harus bisa kaya supaya bisa bersedekah lebih banyak"
Apakah untuk bersedekah harus memiliki banyak harta dulu?
sedekah ketika kaya adalah biasa
sedekah ketika dalam keterbatasan adalah luar biasa
bahkan istri nabi dan Fatimah yang hidup dalam kekuranganpun tetap bisa bersedekah

Kalian juga berkata "kita harus kaya supaya bisa masuk ke segala lapisan masyarakat?"
seandainya nabi berprinsip sama dengan kalian
niscaya nabi akan menjadi orang yang paling kaya
tapi....
lihatlah....
nabi kita menjadi orang yang hidup dalam kekurangan
karena dengan segala kekurangan itu beliau dapat merasakan derita umatnya
dengan kezuhudannya nabi dapat menjadi contoh bagi umatnya
bahwa beliau dapat menjadi pribadi yang selalu bersyukur dalam keadaan apapun
bahkan dalam kekurangan sekalipun

Duhai...
nabi pun seorang ahli bisnis...
tetapi nabi tidak mementingkan bisnis diatas dakwah

Sekarang...
kalian berlomba-lomba menjalankan bisnis
hidup dengan berbagai simbol kekayaan
dengan berbagai alasan

Seperti itukah yang harus kami lakukan sekarang?
mengikuti jejak kalian
melupakan zuhud dan qona'ah
mengambil hedonis sebagai jalan hidup

Itukah tanda sayang kalian kepada Rasulullah?

Salam,

Akar