Jumat, 28 Februari 2014

Akar Rumput

Akar...
Satu bagian terpenting dari sebuah tumbuhan.
Tanpa akar tumbuhan tidak akan bisa hidup.
Akarlah yang menopang semua bagian tumbuhan.
Akar pula yang mencari bahan makanan, sedangkan daun hanya menjadi tempat pengolahan makanan.
Dengan fungsi yang demikian vital dapat dibayangkan bagaimana sebuah tumbuhan dapat hidup tanpa akar.

Rumput...
Merupakan tumbuhan kecil.
Bukan pionir kehidupan di suatu tempat
Karena pionirnya adalah lumut.
Tetapi, rumput dapat hidup di sebuah tempat yang marginal sekalipun.
Rumput yang kecil dan sering kali diinjak-injak merupakan penjaga struktur tanah.

Akar Rumput...
Biarlah tetap menjadi akar rumput...
Penopang hidup serumpun rumput, sang penopang tanah.
Demikianlah posisi dan kehidupan yang kupilih,
Bukan menjadi pucuk Pohon Kelapa yang menjulang tinggi namun rapuh,
mudah terbawa kemana angin bertiup.
Bukan menjadi bunga yang indah nan wangi,
tetapi hanya sekali berarti kemudian mati

Biarlah aku menjadi akar rumput
yang kecil tersembunyi di dalam tanah
tidak nampak namun sejatinya ada....

Salam,
Akar

Sesuatu Yang Hilang

Sejak kecelakaan di depan gang menuju ke kost an akhir tahun yang lalu, saya sedikit trauma untuk menyeberang jalan di depan gang.  Fyi, gang dimana kost an saya berada menghubungkan 2 jalan besar di Yogyakarta yaitu Jalan Kaliurang atau lebih beken dengan jakal dan Ring Road Utara.  2 jalan yang fully crowded, terutama jakal.
Oleh karena itu, setiap pulang kampus saya melewati jalan kampung yang sebenarnya agak memutar dan membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama.  Jalan itu sebenarnya juga ramai tetapi tidak sepadat jakal.  Ketika pertama melewati jalan itu saya juga merasa agak jenuh dan ngeri karena di beberapa tempat sepi dan gelap di waktu malam.
Tetapi lama kelamaan saya menemukan sesuatu yang baru.  Saya baru menyadari ternyata ada yang kurang dari diri saya selama berada di Kota Yogya ini.  Di sini saya hampir tidak pernah bersosialisasi dengan masyarakat sekitar.  Hati saya serasa mengeras dan muka saya semakin lama semakin kaku.  Hal ini saya sadari ketika pada suatu sore saya melewati sekelompok ibu-ibu yang berkumpul ngobrol di pinggir jalan yang akan saya lewati.  Saya pun menyapa mereka seperti kebiasaan saya ketika di kota asal saya.  
Setelah itu saya merasakan sesuatu mengembang di dada saya....kebahagiaan dan keceriaan...  Ternyata inilah yang hilang dari diri saya.  Terlalu lama berkutat dengan setumpuk buku, diktat dan paper membuat hati saya mengeras, pikiran saya terus menerus terpacu dan muka saya menjadi kaku karena otot-otot pipi jarang saya pakai untuk tersenyum dan menyapa.
Alhamdulillah tempat kost saya yang sekarang berada di suatu tempat yang bisa dibilang bukan murni kompleks kost-kostan, masih banyak penduduk Yogya di sekitar saya.  Sehingga bila saya ingin sekedar bersilaturahmi dan bertegur sapa saya tinggal keluar menuju warung pecel atau tukang laundry dan saya bisa menemukan obrolan penuh keakraban khas Yogya.
Ternyata banyak hikmah yang dapat saya ambil dari sebuah kecelakaan.


Salam,

Akar

Kamis, 27 Februari 2014

mukadimah

Sebagai seorang ibu yang sekaligus menjadi mahasiswa dengan status karya siswa alias penerima beasiswa saya dituntut untuk menyeimbangkan beberapa peran sekaligus, ibu, istri dan mahasiswa.  Saya yakin saya bukanlah satu-satunya orang yang mengalami kondisi seperti ini, saya juga yakin ada orang lain di luar sana, bahkan mungkin banyak, yang mempunyai beban jauh lebih berat daripada saya.  Saya salut kepada mereka.

Hal terberat yang harus saya alami adalah ketika suami dan atau anak sakit.  Kondisi ini membuat saya berada pada posisi yang sangat sulit karena saya melanjutkan studi di luar kota dengan perjalanan sekitar 5-6 jam dengan perjalanan darat.  Kerumitan terjadi ketika suami dan anak sama-sama sakit dan berbarengan dengan seabrek tugas kelompok yang sudah diambang deadline.  Bila saya memutuskan tinggal di rumah dan berkonsentrasi mengurus keluarga maka saya mendzolimi teman-teman saya, tetapi bila saya memutuskan meninggalkan keluarga dan berangkat ke kota tempat saya kuliah maka saya mendzolimi keluarga saya.  Begitulah.... saya harus bisa mengoptimalkan kedua hal tersebut.  Dan sungguh.... berrraaaatttttt sekali rasanya.  Saya ingin segera mengakhiri dilema ini, saya ingin segera meninggalkan bangku kuliah, apadaya, kuliah masih akan berlangsung sampai bulan juni mendatang.  Semoga ke depan tidak ada halangan lagi dan saya dapat menyelesaikan semua mata kuliah dan tesis dengan hasil yang maksimal.

Saat ini yang paling saya butuhkan adalah dukungan, do'a dan semangat dari belahan jiwa saya, pasangan sayap saya yang tercinta dan buah hati kami....


Salam,

Akar