Ketika kemarin saya terkena musibah "ciuman maut kelabang", saya tidak sempat berpikir apapun, bad or good. Yang terpikir di benak saya dalam perjalanan menuju IGD hanyalah "bila ini teguran, semoga ini menjadi pengurang dosaku, dan bila aku boleh meminta, tolong jadikan racun binatang ini sebagai penyembuh penyakit-penyakitku".
Ketika orang lain berpikir mengenai efek si racun saya memilih berdo'a dalam diam. Saya yakin ini bukan sebuah kebetulan. Saya yakin pasti ada hikmah dibalik kejadian ini.
Ketika saya harus merasakan sakitnya suntikan (entah apa namanya, yang jelas suntikan ini terasa nyeri sekali) saya hanya bisa membaca istighfar, memohon ampun atas semua dosa. Saya yakin tidak ada sesuatu yang diciptakan dengan sia-sia.
Ketika akhirnya saya merasakan efek racun tersebut tak lama setelah kembali dari IGD, pusing, mata berkunang-kunang dan pegel sampai di pundak, saya merasa inilah saatnya saya harus beristirahat, menjauh sejenak dari hingar bingar dan euforia 17-an. Inilah salah satu cara-Nya mengingatkan hamba-Nya, tidak boleh berlebihan dalam hal apapun.
Ketika pada akhirnya Allah memberi kesembuhan, saya hanya dapat berucap Alhamdulillah.
Dan... "Alhamdulillah kelabang tersebut menggigit saya yang sudah kenyang dengan segala macam obat, suntikan dan tindakan operasi, saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi jika kelabang tersebut menggigit suami dan atau anak-anak saya".
Dan pada akhirnya semua semakin meyakinkan apa yang saya yakini "tidak ada yang namanya kebetulan dan tidak ada sesuatu apapun yang Allah ciptakan untuk sebuah kesia-siaan, semua sudah diatur dengan baik"
Allah... jadikan kami sebagai hamba-Mu yang selalu dapat bersyukur dalam kekurangan dan bersabar dalam kelebihan.
Dan... terima kasihku untuk orang-orang yang sudah membantu pada malam itu...
Allah... hanya Engkau yang dapat membalas kebaikan dan apa yang sudah mereka lakukan untukku...
Salam,
Akar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar