Rabu, 30 April 2014

Kreativitas Anak

Menjadi seorang ibu adalah prestasi dan karier terbaik dalam hidup saya.  Panggilan Bunda atau Mamah (anak saya suka seenaknya memanggil saya, kadang bunda, kadang mamah, kadang ummi, padahal sama ayahnya mah tetep ayah, nggak pernah tuh mereka manggil ayahnya dengan papah atau abi) adalah panggilan terindah bagi saya.  Banyak tantangan untuk menjadi seorang ibu, terutama kreativitas.  Saya yang bisa dibilang sangat pas-pasan dalam pelajaran ketrampilan dan kesenian (sekarang namanya SBK ya) harus memutar otak untuk memenuhi keinginan anak-anak yang kadang tidak bisa terbeli, entah karena harga yang diluar jangkauan atau memang barangnya tidak ada di sekitar kami.
Waktu si Kakak TK dia minta baju untuk boneka barbienya karena baju-baju barbie nya sudah rusak.  Saya janjikan ke dia untuk dibelikan di Kliwonan (pasar rakyat setiap kamis wage sore alias malam jumat kliwon di alun-alun Batang).  Ternyata pedagang boneka dan asesories babrbie yang biasa jualan di bawah Pohon Beringin di tengah alun-alun Batang tidak jualan.  Si Kakak pun mulai manyun karena barbienya tidak mendapat baju baru.  Saya pun ingat di mall dekat alun-alun Pekalongan ada yang jual asesories barbie.  Saya pun kesana, apadaya, yang jualan sudah tidak buka lapak.  Si Kakak semakin manyun.  Akhirnya saya nekat mendatangi penjahit langganan saya dan minta kain perca yang lumayan bagus warna dan motifnya.  Pulangnya saya membawa sekantong kain perca dengan gembira.  dulu saya pernah membuatkan baju barbie juga tapi dengan kain baju saya yang sudah tidak terpakai (didaur ulang jadi baju barbie xixixiixxiiii).  Daaaannnn.... tadaaaa..... jadilah sebuah baju barbie ala kadarnya.... benar-benar ala kadarnya... jahit tangan, dengan perlengkapan seadanya.  Ini dia hasilnya... (ooppsss.... dilarang ketawa, saya akui, sangat...sangat...lucu dan ala kadarnya).


Tantangan kreativitas muncul lagi ketika saya menyadari bahwa kemampuan si Kakak dalam berhitung agak tertinggal dibanding yang lain.  Saya berusaha menerapkan metode klasik untuk berhitung dan bertahan untuk tidak mencari kursus semacam jarimatika atau sempoa.  Bukan masalah idealisme, tetapi saya ingin menanamkan dasar ilmu berhitung ke dalam pikiran anak-anak saya, sehingga mereka tidak selalu mencari cara instan.  Awalnya saya memakai lidi sebagai alat untuk menghitung (seperti dulu saya diajari sewaktu SD).  Ternyata lidi juga bisa berbahaya, karena anak-anak jaman sekarang jarang memakai lidi sebagai alat berhitung maka lidi yang awalnya digunakan untuk berhitung malah digunakan untuk bermain yang kadang malah membahayakan temannya.  Akhirnya saya ganti pakai sedotan yang dipotong-potong, tidak berbahaya dan ringan.  Ternyata saking ringannya sedotan tersebut beterbangan terkena sapuan angin dari kipas angin.  Bingung... pakai apalagi ya?  Finally... cotton bud jadi sasaran.  Anak saya pun mulai berhitung (penjumlahan dan pengurangan) dengan cotton bud.  Ketika ulangan umum tiba (besoknya) cotton bud itupun dibawa ke sekolah.  Apadaya, cotton bud itu malah dimintai teman-temannya untuk main.  Sampai di rumah saya tanya si Kakak "gimana berhitungnya kak?".  "Alhamdulillah bisa ma, tapi kakak nggak pakai cotton bud, cotton budnya dipakai untuk mainan sama teman-teman" jawab si Kakak.
weks.... jadi? "kakak pakai cara kakak sendiri ma, kakak buat garis-garis kecil di kertas kemudian kakak tambah kalau soalnya penjumlahan dan dihapus kalau soalnya pengurangan, gampang kan ma?" jawab si Kakak.  Gubraaaakkkkk....gampang katanya... kemarin aja bingung nggak bisa ngerjain.  Alhamdulillah, bila dilatih dengan telaten insya Allah anak akan menemukan jalannya sendiri.  


Si adek juga ternyata tidak mau kalah, "kalau adek menghitung dengan bantuan jari-jari kecil yang ada di samping jari kelingking" kata adek.  "mana jarinya dek? bunda nggak lihat" tanya saya.
"ah, mama nggak bisa lihat, cuma adek yang bisa lihat" jawabnya.
Dan.... inilah jawaban mereka ketika ditanya "siapa yang mengajari memakai cara itu?"..... Jawaban mereka sama " diajari pikiranku sendiri donk ma".... oopppsss... nggak boleh riya ya nak... tapi mamah bangga...


Gambar diatas adalah gambar si adek sedang membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali.  Umurnya waktu itu 3,5 tahun.

Yang ini si Kakak ingin memberi hadiah ulang tahun untuk tantenya berupa kue tart buatannya sendiri, akhirnya Bude Mieke pun turun tangan, dengan telaten mengajari si kakak (dan Mbak Nia) membuat kue tart.


Nah, ini karya si kakak ketika kelas 1 SD, critanya si kakak ingin membuat film kartun, karena belum bisa, akhirnya sandiwara boneka ala kartun pun bolehlah... kreatif kan?

Dan, dengan semua kreativitasnya, sekarang anak-anak saya tidak bercita-cita menjadi dokter atau polisi, mereka ingin menjadi guru sekaligus pemilik restoran.  

Kids.... Mama bangga pada kalian... sangat... kalian permata mama yang paling berharga...

Salam,

Akar

Jumat, 25 April 2014

SEINDAH BIASA

SEINDAH BIASA

SITI NURHALIZAH


Jalan pernah takut ku tinggalkan
Saat bintang tak mampu lagi berdendang
Saat malam menjadi terlalu dingin
Hingga pagi tak seindah biasanya

Reff:
Takkan mungkin kita bertahan
Hidup dalam bersendirian
Panas terit hujan badai
Kita lalui bersama

Saat hilang arah tujuan
Kau tahu ke mana berjalan
Meski terang meski gelap
Kita lalui bersama

Ku tak bisa merubah yang telah terjadi
Tapi aku akan menjanjikan yang terbaik
Agar kita tak pernah menjadi jauh
Meski beza dermaga untuk kita berlabuh

Ulang Reff

Pernah kita jatuh
Mencuba berdiri
Menahan sakit dan menangis
Tapi erti hidup lebih dari itu
Dan kita mencuba melawan

Salam,


Akar

Rabu, 23 April 2014

Mbak Rika...

Tiba-tiba saya teringat seorang teman lama, namanya Mbak Arika, kami memanggilnya Mbak Rika.  Beliau teman kost saya waktu kuliah di Bogor.  Usia beliau kira-kira 10 tahun diatas saya.  Beliau bekerja sebagai dosen di salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Surabaya, saat itu beliau berstatus Mahasiswa S2 di Univ Brawijaya yang sedang melakukan penelitian di Lab yang sama dengan saya, 1 dosen pembimbing.

Beliau seorang ibu dari 2 putri (saat itu) yang dengan sangat terpaksa harus beliau tinggalkan karena tuntutan studinya.  Beliau seorang yang tangguh, sangat tangguh.  Setiap Hari Jumat beliau selalu pulang, dan kembali ke Lab pada Hari Senin pagi.  Kebetulan lab kami berada tidak jauh dari pool Pahala Kencana. Jadi setiap jumat beliau ke lab dengan membawa tas perlengkapan pulang kampung karena bis berangkat jam 2 siang.  Beliau juga seorang yang ramah dan pekerja keras.  Selalu berangkat paling pagi dan pulang terakhir (setelah saya, setelah beliau selesai dari lab saya menjadi orang terakhir yang meninggalkan lab).  Jarak dari kost an kami ke lab kira-kira 30 menit sampai 1 jam perjalanan (Bogor-Cibinong terkenal macetnya), sehingga kami harus berangkat jam 6.30 dari kost an dan sampai di kost an lagi maghrib atau setelah maghrib).  Sesampai di kost an Mbak Rika langsung masuk kamar, tidur setelah isya dan bangun jam 1 atau jam 2, belajar.  Heiiiiii.... tanpa sadar saya sekarang mengikuti pola hidupnya... :)

Pada saat itu (1999-2000) telpon genggam adalah barang yang sangat mewah dan mahal, sehingga kami masih mengandalkan telpon rumah dan warnet.  Demikian juga Mbak Rika, tak jarang anaknya telpon hanya untuk sekedar melaporkan keberadaan mereka saat ini, kadang anaknya cerita mau ke rumah eyangnya, lain waktu cerita kalau badannya ndak enak.  Saat itu saya hanya bisa menatap dengan penuh kekaguman, kok bisa ya ada orang yang begitu kuat fisik dan mentalnya.  Fyi, dosen pembimbing kami menurut saya adalah orang yang paling cerewet dan killer (bila dibandingkan dengan dosen pembimbing saya di kampus yang begitu lembut dan keibuan), tetapi menurut Mbak Rika, beliau belum apa-apa dik, masih ada yang jauh lebih killer, nimati saja.  Alhamdulillah, ternyata benar kata Mbak Rika, finally, saya bisa juga menata hati saya untuk tidak menganggap dosen saya killer, justru saya berterima kasih karena dengan kekilleran beliau dan kelembutan dosen pembimbing 1 saya akhirnya saya bisa lulus dengan hasil yang sangat memuaskan.  Dulu saya senang sekali mendengar cerita-ceritanya, apa saja, tentang keluarganya, anaknya, perjalanannya, pekerjaannya, apa saja... 

Kembali ke Mbak Rika, takjarang Mbak Rika pergi ke warnet, sekedar untuk mengontrol keadaan anak-anaknya.  Subhanalloh, di tengah kesibukannya beliau masih sempat memikirkan anak-anaknya.  Helllloooowwwww.... penelitian Mbak Rika tergolong berat lho.  O, ya, kami melakukan penelitian di Lab Kultur Jaringan dan Genetika Puslibang Bioteknologi LIPI Cibinong.  Saya meneliti kultur jaringan Sengon dari tunas pucuk tanaman dewasa (4 dan 8 tahun) sedang Mbak Rika meneliti genetika (kalau tidak salah tentang granulasi/pengawetan apa gitu).  Hiks... kenangan yang indah untuk dikenang... walaupun waktu itu terasa sangat berat untuk dijalankan.

Sekarang saya kehilangan jejak Mbak Rika, terakhir saya telpon beliau ketika awal saya menjadi PNS (tahun 2003).  Kangeeeennnn sekali sama Mbak Rika, ingin sekali saya mengatakan "Mbak, dirimu benar-benar tangguh, saya yang hanya menempuh perjalanan 6 jam setiap minggu saja rasanya sudah mau tepar, njenengan setiap minggu menempuh perjalanan Bogor-Surabaya PP, bagaimana rasanya?"

Teruntuk kakak-kakak saya di Lab : Mbak Retno, Mbak Itha, Mbak NengNong eh Mbak Neneng alias Mbak Nancy, terima kasih atas semua bimbingannya... Kalian termasuk orang-orang yang membuat saya menjadi seperti sekarang...

Bila ada yang mengenal Mbak Rika, sampaikan salam saya kepada beliau, sampaikan saya salut padanya, dan tentu saja, saya kangen cerita-ceritanya, nasehat-nasehatnya.... beruntung sekali mahasiswanya memiliki dosen selembut dan sepandai beliau (hasil browsing saya menunjukkan kalau beliau sedang menempuh S3 di Univ Brawijaya.... hiks.... bisakah aku mengikuti jejakmu menempuh S3 mbak???)

Salam,

Akar

Selasa, 22 April 2014

Suara Hati Mama

Kadang saya berpikir apakah saya termasuk ibu yang menelantarkan keluarga?  Berkali-kali saya harus minta maaf kepada anak-anak karena berkali-kali pula mereka berada di posisi "harus mengerti mama" dan tidak ada pilihan lain selain "tunggu mama ada waktu ya nak".  Padahal saya tahu bahwa seharusnya orang tua lah yang harus mengerti anak-anaknya, bukan sebaliknya.
Seperti sekarang, sudah dari awal April mereka bilang bahwa mereka ingin mengirimkan bungkus indomilk ke undian Indomilk berhadiah piknik ke Legoland Malaysia.  Mereka sudah mencoba memasukkan bungkus indomilk tersebut ke amplop kecil dan amplop putih panjang tetapi tidak cukup.  Pada akhirnya si Kakak berinisiatif memasukkan bungkus-bungkus Indomilk itu ke dalam 2 amplop yang berbeda.  Saya tahu ini mereka lakukan karena tidak ingin merepotkan mamanya yang sedang sibuk dengan kuliahnya.  Ketika saya bilang "nggak bisa kak, harus dalam 1 amplop, nanti mama belikan amplop coklat besar ya" mata si kakak berbinar dan penuh harap bungkus-bungkus Indomilk itu segera terkirim.  Bungkus-bungkus Indomilk itu merupakan perwujudan dari harapan mereka akan dapat hadiah, walaupun kemungkinan dapat hadiah itu sangat kecil tapi paling tidak mereka masih memiliki harapan, sebuah kata yang sering kali tidak dimiliki oleh orang dewasa sekalipun.
Well.... janji tinggal janji... sampai hari ini, 2 kali saya pulang keinginan mereka belum terpenuhi.  Berkali-kali si Kakak mengingatkan "terakhir tanggal 30 april lho ma".  Kesibukan kuliah di semester akhir membuat saya tidak sempat pergi ke toko buku atau supermarket.  Kakak... maafin mama ya... mama kangeeeeennnn....
Finally... hari ini amplop itu pun terbeli sudah.  Semoga kakak dan adek senang dengan amplop ini.
Mungkin bagi orang lain masalah amplop ini adalah masalah sepele, tapi bagi saya tidak.  Ini masalah serius karena saya tidak ingin mematahkan semangat, kreativitas dan rasa percaya diri anak-anak saya.  Ketika mereka ingin berkreasi asal wajar kami (saya dan suami) akan berusaha memenuhinya.

Mungkin ada yang bertanya "mengapa bukan ayahnya yang membelikan?"
Fyi, suami saya jauh lebih sibuk daripada saya.  Pagi-pagi suami saya harus menggantikan peran saya menyediakan sarapan (karena saya jauh dari keluarga), kemudian mengantar anak-anak ke sekolah.  Pulang kerja suami saya kuliah sampai malam.  Tidak tega rasanya kalau saya masih harus membebani dia dengan hal-hal seperti ini.

Begitulah... semoga semua segera berakhir, kuliah saya segera selesai dengan hasil yang maksimal, tesis saya pun tidak banyak kendala.  Sehingga saya bisa mendampingi si Kakak ketika dia menerima buku pertama yang memuat karyanya.  Good news.... salah satu cerita karya si kakak akan diterbitkan bersama tulisan beberapa penulis cilik lainnya.  Impian kami satu demi satu menjadi kenyataan, semoga ayah dan adek juga segera dapat mewujudkan impian-impian mereka.  Allah, bantu kami....

Salam,

Akar

Rabu, 16 April 2014

Lelah...

Allah...
Banyak sekali yang ingin kucurahkan kepada Mu
Semua lelah diri ini
Semua kegundahan hati ini

Allah...
Biarkan kumenangis di hadapanMu
Biarkan ku luruh di bumiMu
Lepaskan semua beban di dada ini

Allah...
Peluk aku
Dekap aku
Erat

Allah...
Hanya Engkau yang mengetahui rahasia-rahasia hati ini
Hanya Engkau yang mengetahui kelemahan diri ini
Hanya Engkau yang mengetahui keinginan-keinginan jiwa ini

Allah...
Bantu aku
Jaga aku
Bimbing aku

Allah...
Biarkan kumenangis
Ratapi diri ini
Yang penuh dosa dan noda
Yang takmampu bertahan
Yang takmampu melawan

Allah...
Biarkan kumenangis...
Bantu aku...
Kuatkan aku...


HambaMU yang lemah,
Akar


Selasa, 15 April 2014

Mas Echa...

Kali ini saya ingin bercerita tentang keponakan yang tersayang.  Dia ponakan pertama saya, dan sudah seperti anak sulung bagi saya.  Sejak kecil dia sudah sering saya ajak kemana-mana, saya belikan mainan dan saya ajari berbagai permainan, ala cowok tentunya, mengingat keponakan saya itu cowok dan dulu saya juga lebih sering bergaul dengan dunia cowok.  Saya ajari dia memanjat tiang penyangga rumah sampai tinggi.  Waktu itu perasaan saya biasa-biasa saja, tetapi ketika sekarang anak saya memanjat tiang rumah Bapak (yang nota bene lebih besar) saya ketar ketir dan dengan tergopoh-gopoh menyuruh dia turun.  Kadang saya berpikir, mengapa waktu itu saya bisa "keras" dalam mendidik ponakan saya? noted : keras bukan berarti kasar, tapi penuh kasih sayang.  Apakah karena saya lebih sayang pada anak saya daripada ponakan? Ah, tidak juga.  Apakah karena sekarang saya sudah menjadi ibu dan dulu saya belum mempunyai jiwa keibuan? ah, rasanya nggak juga, sejak dulu ponakan saya lengket sama saya, kalau bukan karena saya memiliki jiwa keibuan bagaimana dia bisa begitu lengket sama saya? (GR.....)
Sekarang ponakan saya sudah SMP, dia mempunyai hobi yang menurutnya kereeeennnnn banget.  Dia ikut Bismania Community.  Hobinya memotret bis yang lewat dan nongkrong di garasi bis.  Pernah suatu ketika saya akan berangkat ke Jogja untuk mengurus pendaftaran di UGM, ponakan saya, o ya, namanya Echa ikut.  Baru kali ini saya melihat pandangan penuh cinta yang benar-benar seperti lupa segalanya. Dia memandang bis yang lewat dengan pandangan kagum, sesekali dia bilang "Om, dekati bis itu, aku mau memotretnya".

Karena banyak hal yang harus saya selesaikan, sampai sore kami tidak berhenti di tempat wisata manapun.  Aku lihat Echa cemberut.  Akhirnya saya bertanya "Mas Echa mau apa?"
Dengan wajah ditekuk dia berkata "Echa pengen ke tempat dimana banyak bis nongkrong"
Waduh.... maghrib-maghrib gini.... akhirnya kami menuju ke Malioboro... dan.... fiuhhhhh.... Echa berlari dengan gembira diantara bis-bis yang parkir di area parkir Abu Bakar Ali.  Saya dan suami harus berlari-lari mengejarnya dan sesekali menjadi juru fotonya.  duhaiiiii.... seandainya kecintaan dia bukan pada bis, tetapi pada buku atau al Qur'an.

Akhirnya kami pulang dengan senyum mengembang di wajah Echa.  Ini foto-foto Echa ku sayang dengan bis-bis tersayangnya.





Yah, itulah ponakan saya, mas bagi anak-anak saya, salah satu pelita hati saya.  Semoga menjadi anak yang sholih dan menjadi peneyejuk mata dan hati keluarga ya mas.

Salam,

Akar

Senin, 14 April 2014

Parenting (1)

Saya pernah mengikuti Seminar Parenting yang diisi oleh Ustadz Anwar Jufri Romli.  Sangat menarik.  Satu kesalahan saya saat itu adalah saya tidak membawa buku sehingga pada saat itu saya meminta ijin pada grup BB teman-teman seangkatan di Fahutan 32 untuk memposting inti dari seminar tersebut ke chat grup.

Hal penting yang harus diperhatikan untuk mendapat anak yang sholih adalah:
  1. Mencari ibu/ayah yang baik untuk anak tersebut
  2.  Membuat proposal seperti apa anak yang diinginkan, misalnya ingin anak yang pintar di bidang nuklir, sekaligus dibuat langkah-langkah apa yang akan ditempuh anak tersebut untuk meraih cita-citanya
  3. Bila sudah terlambat (anak sudah lahir) maka yang harus dilakukan adalah mendoakan.

Dalam hal do’a ternyata banyak orang tua yang salah mendoakan.  Kebanyakan orang tua di Indonesia mendoakan supaya anak-anaknya mudah mendapatkan pekerjaan.  Allah Maha Pengabul do’a.  Maka Allah akan mencarikan pekerjaan untuk anak tersebut.  Sedangkan orang Cina kebanyakan menginginkan anaknya menjadi pengusaha alias pembuka lapangan pekerjaan.  Allah Maha Pemberi Rejeki bagi siapapun, muslim maupun bukan.  Akhirnya Allah mempertemukan keinginan keduanya.... dan hasilnya.... banyak orang Indonesia menjadi TKI di Cina.

Kesalahan diatas membuat saya berpikir keras bagaimana cara menanamkan jiwa pemberi dan pembuka lapangan pekerjaan bagi orang lain.  Jawabannya saya sarikan dari seminar parenting itu juga.
Ketika anak saya bertanya “ma, boleh aku menjadi dokter?”
Saya jawab “mengapa hanya menjadi dokter?  Mengapa tidak menjadi dokter yang sekaligus pemilik rumah sakit tersebut?” 
Sejenak anak saya bingung, kemudian saya beri penjelasan “kalau menjadi dokter maka adik dan kakak hanya menjadi dokter dan dibayar oleh pemilik rumah sakit, tetapi kalau adik dan kakak menjadi dokter sekaligus pemilik rumah sakit maka selain menjadi dokter, kakak dan adik justru akan membayari dokter lain yang bekerja di rumah sakit itu”.  Anak-anak pun tertawa lebar. 
*mungkin yang menjadi pertanyaan berikutnya “dari mana uang untuk membuat rumah sakit?”  Allah Maha Pemberi rizqi, bila kita sudah mengajukan proposal maka serahkan pada Allah, Dia yang akan mencukupkan dan menunjukkan jalannya.*

Dan setelah beberapa proposal cita-cita  diajukan dengan jawaban yang mirip seperti diatas, kakak dan adek kembali bertanya “Ma, bolehkah kami menjadi presiden?”  Untuk pertanyaan ini saya agak kesulitan, akhirnya “dengar ya, mama mau bercerita, di dalam rumah ini mama bertugas mengatur keuangan, nah misalnya suatu hari baju kerja ayah sobek, sepatu adek robek dan tas kakak rusak, padahal uang yang ada hanya cukup untuk membeli salah satu dari 3 barang tersebut.  Mama pasti bingung, ayah memerlukan baju untuk berangkat kerja, adek dan kakak membutuhkan tas dan sepatu untuk sekolah.  Nah, akhirnya mama lihat baju ayah bolongnya dimana? Oh, bolongnya di pundak dan tidak bisa diperbaiki, sepatu adek masih bisa disolkan dan tas kakak masih bisa dibetulkan di tukang reparasi tas.  Jadi, uang tersebut mama gunakan untuk membeli baju kerja ayah.  Nah, itu baru 3 orang yang butuh, bayangkan kalau seorang presiden, rakyatnya ada 200 juta lebih, semua minta kepada presiden, ada yang minta jalan diperbaiki, ada yang minta ternak dan lain-lain.  Kira-kira kakak dan adek bisa nggak mencari jalan terbaik untuk 200juta orang?”  Finaly....“Pusing ya ma?” kata anak-anak.

Beberapa hari kemudian mereka kembali berkata “Ma, sekarang cita-cita kami adalah kami akan membuka rumah makan dan toko roti, kakak akan memasak dan adek melayani pembeli”.

Sederhana.... tapi #jleb buat mama, akhirnya mereka bisa berpikir untuk membuka lapangan pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan.  Paling tidak sekarang anak saya mempunyai keyakinan bahwa pekerjaan bukan hanya menjadi dokter, polisi, tentara atau guru seperti cita-cita teman-teman mereka pada umumnya.  Yakinlah nak, tangan yang diatas jauh lebih baik daripada tangan yang dibawah.  Kalau bisa menjadi pemberi pekerjaan untuk orang lain di sekitar kita, untuk apa menjadi pencari kerja di tempat lain?  Walaupun posisi ayah dan mama kalian saat ini bukan pemberi lapangan kerja untuk orang lain, kami akan akan mendidik kalian supaya menjadi orang yang jauh lebih baik dari kami dan memberi manfaat lebih banyak bagi orang lain.  Dengan ijin Allah insya Allah semua akan tercapai :)

Salam,
Akar

Sabtu, 12 April 2014

Cerpen Karya Buah Hatiku

Cerpen ini tulisan anak sulungku si cantik dan sholehah penyejuk mata dan hatiku.... Athiya... Kelas 2 SDN Proyonanggan 11 Batang.... with no editing... Jadi kalau ada kesulitan dalam membaca mohon dimaafkan dan dimaklumi...
Salam, 
Akar

Fantastic night

Hallo nama ku Annisa rizki firdaus panggilan ku annisa
Aku bersekolah di sd islamic shcool kelas II
Aku mempu nyai empat sahabat yang bernama anni,vanis,
Lissa,dan feli.dari ke empat sahabat ku [semua]aku-
Di panggil nissa. teman dan guru ku disana juga memanggil-
Ku begitu.suatu hari aku dan teman teman merencanakan-
Sesuatu yaitu pesta menginap di rumah ku.kenapa di-
Rumah ku karena aku satu satu nya dari ke empat sahabat-
Ku yang mempu nyai kasur lipat lima.oke let’s go to story
Hari itu aku dan teman teman berkumpul di kantin –
Tempat faforit kami di sekolah .jadi kita kumpul jam berapa
Ujar vanis kepada ku h,mmm jam sebelas aja deh atau-
Seterah lah.horeee ujar ke empat sahabat ku.
Saat pulang
Asalamualaikum ummi annisa pulang.
Memang di lingkungan keluargaku aku di panggil annisa.
Eh anak ummi pulang.mi nan ti anni,vanis ,lissa,dan feli
Mau menginap di rumahku sampai besok lusa mi.
Kalau begitu kamu sekarang siapin kasur lipat oke-
Oke mi.di kamar aku segera menyiap kan lima kasur lipat-
Lima [biar lebih sopan karena kalau teman teman tidur-
Di bawah aku di atas kan tidak sopan]ting...tong ada-
Yang membunyi kan bel rumah ku.saat aku buka pintu nya-
Ada anni dan vanis hai nissa hai vanis... hai anni...ujar ku-
Sopan .eh lissa dan feli belum datang ujar ku-
Belum lissa bilang ngurusin adik nya dulu feli bilang-
Mau bantu ibu nya beres-beres rumah kata vanis.
Oooh begitu ujar ku ayo masuk ke kamar ku-
Oke ujar mereka berdua .tiba-tiba ...ting...tong bel-
Rumah ku ber bunyi lagi saat di buka ada lissa dan feli.
Eh cepet banget ujar ku. Hehehe tadi aku beres-beres rumah-
Habis pulang sekolah sih hehehe ujar feli.kalau aku...aku –
Pakai jurus cepat ngurusin adik ku hehehe.eh gimana tuh
Ujar ku .itu rahasia keluarga ku hehehe ujar lissa .huh
Ujar ku pura pura marah.
Malam ke satu dan kedua berjalan dengan baik kecuali-
Malam ketiga. hari ini aku dan teman-teman tidur jam tujuh-
[biar lebih cepat hehehe...]duh...aku nggak bisa tidur nih friends ujar ku pada teman-teman ku.aku punya ide ujar -vanis. apaan  tuh Nis.malam yang mbosenin ini jadi –
Fantastic night.hah apaan tuh fantastic night ?
Fantastic night itu MALAM YANG MENAJUB KAN masak-
Nggak tau KAN SUDAH DI AJARIN ustadah tiana ujar vanis -pura-pura galak[sambil teriak lagi hehehe...]pssst...ummi dan abi ku lagi tidur  ujar  ku pada vanis.hehehe maaf ya nissa
Hehehe...vanis memang nggak apa-apa kalau kita besok-
Pagi kita terlambat bangun gimana?tenang lis besok-
Kan masih libur .oke lah kalau begitu ayo kebetulan masih-
Jam tujuh lewat tapi  sampai jam berapa?sampai-
Jam sepuluh deh .mau tau kegiatan apa yang kami-
Laku kan?kegiatan yang kami lakukan adalah:piknik di -kamar,main boneka,lomba baca cerita[aku dan vanis jadi juri nya siapapun dari lissa,anni,dan feli yang cerita nya lebih –bagus jadi juara deh]dan lain-lain.

Benar-benar fantastic night yang wonderfull.


nb. Dalam foto diatas si cantikku berjilbab pink membawa piala

Rabu, 02 April 2014

kini - rossa -

Kemarin di TV ada lagu yang rasanya tidak asing di telinga saya, tapi dinyanyikan oleh Marcel.
Ternyata... lagu Rossa yang didaur ulang.... masih enak didengar....
Ini lagunya....

Salam,
Akar

KINI

kusadari....
semua jalanku....
takberarah kepadamu
mungkin salah
diri ini memikirkanmu
aku kini tlah berdua

dan tak seindah cinta yang lalu
yang jalan dan jalin tanpa restu
kuakhiri namun takberakhir
kuhindari hati tak ingin terpisah

bila kau dengan yang lain
sesungguhnya ku tak rela