Menjadi seorang ibu adalah prestasi dan karier terbaik dalam hidup saya. Panggilan Bunda atau Mamah (anak saya suka seenaknya memanggil saya, kadang bunda, kadang mamah, kadang ummi, padahal sama ayahnya mah tetep ayah, nggak pernah tuh mereka manggil ayahnya dengan papah atau abi) adalah panggilan terindah bagi saya. Banyak tantangan untuk menjadi seorang ibu, terutama kreativitas. Saya yang bisa dibilang sangat pas-pasan dalam pelajaran ketrampilan dan kesenian (sekarang namanya SBK ya) harus memutar otak untuk memenuhi keinginan anak-anak yang kadang tidak bisa terbeli, entah karena harga yang diluar jangkauan atau memang barangnya tidak ada di sekitar kami.
Waktu si Kakak TK dia minta baju untuk boneka barbienya karena baju-baju barbie nya sudah rusak. Saya janjikan ke dia untuk dibelikan di Kliwonan (pasar rakyat setiap kamis wage sore alias malam jumat kliwon di alun-alun Batang). Ternyata pedagang boneka dan asesories babrbie yang biasa jualan di bawah Pohon Beringin di tengah alun-alun Batang tidak jualan. Si Kakak pun mulai manyun karena barbienya tidak mendapat baju baru. Saya pun ingat di mall dekat alun-alun Pekalongan ada yang jual asesories barbie. Saya pun kesana, apadaya, yang jualan sudah tidak buka lapak. Si Kakak semakin manyun. Akhirnya saya nekat mendatangi penjahit langganan saya dan minta kain perca yang lumayan bagus warna dan motifnya. Pulangnya saya membawa sekantong kain perca dengan gembira. dulu saya pernah membuatkan baju barbie juga tapi dengan kain baju saya yang sudah tidak terpakai (didaur ulang jadi baju barbie xixixiixxiiii). Daaaannnn.... tadaaaa..... jadilah sebuah baju barbie ala kadarnya.... benar-benar ala kadarnya... jahit tangan, dengan perlengkapan seadanya. Ini dia hasilnya... (ooppsss.... dilarang ketawa, saya akui, sangat...sangat...lucu dan ala kadarnya).
Tantangan kreativitas muncul lagi ketika saya menyadari bahwa kemampuan si Kakak dalam berhitung agak tertinggal dibanding yang lain. Saya berusaha menerapkan metode klasik untuk berhitung dan bertahan untuk tidak mencari kursus semacam jarimatika atau sempoa. Bukan masalah idealisme, tetapi saya ingin menanamkan dasar ilmu berhitung ke dalam pikiran anak-anak saya, sehingga mereka tidak selalu mencari cara instan. Awalnya saya memakai lidi sebagai alat untuk menghitung (seperti dulu saya diajari sewaktu SD). Ternyata lidi juga bisa berbahaya, karena anak-anak jaman sekarang jarang memakai lidi sebagai alat berhitung maka lidi yang awalnya digunakan untuk berhitung malah digunakan untuk bermain yang kadang malah membahayakan temannya. Akhirnya saya ganti pakai sedotan yang dipotong-potong, tidak berbahaya dan ringan. Ternyata saking ringannya sedotan tersebut beterbangan terkena sapuan angin dari kipas angin. Bingung... pakai apalagi ya? Finally... cotton bud jadi sasaran. Anak saya pun mulai berhitung (penjumlahan dan pengurangan) dengan cotton bud. Ketika ulangan umum tiba (besoknya) cotton bud itupun dibawa ke sekolah. Apadaya, cotton bud itu malah dimintai teman-temannya untuk main. Sampai di rumah saya tanya si Kakak "gimana berhitungnya kak?". "Alhamdulillah bisa ma, tapi kakak nggak pakai cotton bud, cotton budnya dipakai untuk mainan sama teman-teman" jawab si Kakak.
weks.... jadi? "kakak pakai cara kakak sendiri ma, kakak buat garis-garis kecil di kertas kemudian kakak tambah kalau soalnya penjumlahan dan dihapus kalau soalnya pengurangan, gampang kan ma?" jawab si Kakak. Gubraaaakkkkk....gampang katanya... kemarin aja bingung nggak bisa ngerjain. Alhamdulillah, bila dilatih dengan telaten insya Allah anak akan menemukan jalannya sendiri.
Si adek juga ternyata tidak mau kalah, "kalau adek menghitung dengan bantuan jari-jari kecil yang ada di samping jari kelingking" kata adek. "mana jarinya dek? bunda nggak lihat" tanya saya.
"ah, mama nggak bisa lihat, cuma adek yang bisa lihat" jawabnya.
Dan.... inilah jawaban mereka ketika ditanya "siapa yang mengajari memakai cara itu?"..... Jawaban mereka sama " diajari pikiranku sendiri donk ma".... oopppsss... nggak boleh riya ya nak... tapi mamah bangga...
Gambar diatas adalah gambar si adek sedang membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk bali. Umurnya waktu itu 3,5 tahun.
Yang ini si Kakak ingin memberi hadiah ulang tahun untuk tantenya berupa kue tart buatannya sendiri, akhirnya Bude Mieke pun turun tangan, dengan telaten mengajari si kakak (dan Mbak Nia) membuat kue tart.
Nah, ini karya si kakak ketika kelas 1 SD, critanya si kakak ingin membuat film kartun, karena belum bisa, akhirnya sandiwara boneka ala kartun pun bolehlah... kreatif kan?
Dan, dengan semua kreativitasnya, sekarang anak-anak saya tidak bercita-cita menjadi dokter atau polisi, mereka ingin menjadi guru sekaligus pemilik restoran.
Kids.... Mama bangga pada kalian... sangat... kalian permata mama yang paling berharga...
Salam,
Akar








