Selasa, 15 April 2014

Mas Echa...

Kali ini saya ingin bercerita tentang keponakan yang tersayang.  Dia ponakan pertama saya, dan sudah seperti anak sulung bagi saya.  Sejak kecil dia sudah sering saya ajak kemana-mana, saya belikan mainan dan saya ajari berbagai permainan, ala cowok tentunya, mengingat keponakan saya itu cowok dan dulu saya juga lebih sering bergaul dengan dunia cowok.  Saya ajari dia memanjat tiang penyangga rumah sampai tinggi.  Waktu itu perasaan saya biasa-biasa saja, tetapi ketika sekarang anak saya memanjat tiang rumah Bapak (yang nota bene lebih besar) saya ketar ketir dan dengan tergopoh-gopoh menyuruh dia turun.  Kadang saya berpikir, mengapa waktu itu saya bisa "keras" dalam mendidik ponakan saya? noted : keras bukan berarti kasar, tapi penuh kasih sayang.  Apakah karena saya lebih sayang pada anak saya daripada ponakan? Ah, tidak juga.  Apakah karena sekarang saya sudah menjadi ibu dan dulu saya belum mempunyai jiwa keibuan? ah, rasanya nggak juga, sejak dulu ponakan saya lengket sama saya, kalau bukan karena saya memiliki jiwa keibuan bagaimana dia bisa begitu lengket sama saya? (GR.....)
Sekarang ponakan saya sudah SMP, dia mempunyai hobi yang menurutnya kereeeennnnn banget.  Dia ikut Bismania Community.  Hobinya memotret bis yang lewat dan nongkrong di garasi bis.  Pernah suatu ketika saya akan berangkat ke Jogja untuk mengurus pendaftaran di UGM, ponakan saya, o ya, namanya Echa ikut.  Baru kali ini saya melihat pandangan penuh cinta yang benar-benar seperti lupa segalanya. Dia memandang bis yang lewat dengan pandangan kagum, sesekali dia bilang "Om, dekati bis itu, aku mau memotretnya".

Karena banyak hal yang harus saya selesaikan, sampai sore kami tidak berhenti di tempat wisata manapun.  Aku lihat Echa cemberut.  Akhirnya saya bertanya "Mas Echa mau apa?"
Dengan wajah ditekuk dia berkata "Echa pengen ke tempat dimana banyak bis nongkrong"
Waduh.... maghrib-maghrib gini.... akhirnya kami menuju ke Malioboro... dan.... fiuhhhhh.... Echa berlari dengan gembira diantara bis-bis yang parkir di area parkir Abu Bakar Ali.  Saya dan suami harus berlari-lari mengejarnya dan sesekali menjadi juru fotonya.  duhaiiiii.... seandainya kecintaan dia bukan pada bis, tetapi pada buku atau al Qur'an.

Akhirnya kami pulang dengan senyum mengembang di wajah Echa.  Ini foto-foto Echa ku sayang dengan bis-bis tersayangnya.





Yah, itulah ponakan saya, mas bagi anak-anak saya, salah satu pelita hati saya.  Semoga menjadi anak yang sholih dan menjadi peneyejuk mata dan hati keluarga ya mas.

Salam,

Akar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar