Saya pernah mengikuti Seminar Parenting yang diisi oleh
Ustadz Anwar Jufri Romli. Sangat
menarik. Satu kesalahan saya saat itu
adalah saya tidak membawa buku sehingga pada saat itu saya meminta ijin pada
grup BB teman-teman seangkatan di Fahutan 32 untuk memposting inti dari seminar
tersebut ke chat grup.
Hal penting yang harus diperhatikan untuk mendapat anak yang sholih adalah:
- Mencari ibu/ayah yang baik untuk anak tersebut
- Membuat proposal seperti apa anak yang diinginkan, misalnya ingin anak yang pintar di bidang nuklir, sekaligus dibuat langkah-langkah apa yang akan ditempuh anak tersebut untuk meraih cita-citanya
- Bila sudah terlambat (anak sudah lahir) maka yang harus dilakukan adalah mendoakan.
Dalam hal do’a ternyata banyak orang tua yang salah mendoakan. Kebanyakan orang tua di Indonesia mendoakan
supaya anak-anaknya mudah mendapatkan pekerjaan. Allah Maha Pengabul do’a. Maka Allah akan mencarikan pekerjaan untuk
anak tersebut. Sedangkan orang Cina
kebanyakan menginginkan anaknya menjadi pengusaha alias pembuka lapangan
pekerjaan. Allah Maha Pemberi Rejeki
bagi siapapun, muslim maupun bukan.
Akhirnya Allah mempertemukan keinginan keduanya.... dan hasilnya....
banyak orang Indonesia menjadi TKI di Cina.
Kesalahan diatas membuat saya berpikir keras bagaimana
cara menanamkan jiwa pemberi dan pembuka lapangan pekerjaan bagi orang
lain. Jawabannya saya sarikan dari
seminar parenting itu juga.
Ketika anak saya bertanya “ma, boleh aku menjadi dokter?”
Saya jawab “mengapa hanya menjadi dokter? Mengapa tidak menjadi dokter yang sekaligus pemilik
rumah sakit tersebut?”
Sejenak anak saya bingung, kemudian saya beri penjelasan
“kalau menjadi dokter maka adik dan kakak hanya menjadi dokter dan dibayar oleh
pemilik rumah sakit, tetapi kalau adik dan kakak menjadi dokter sekaligus
pemilik rumah sakit maka selain menjadi dokter, kakak dan adik justru akan
membayari dokter lain yang bekerja di rumah sakit itu”. Anak-anak pun tertawa lebar.
*mungkin yang menjadi pertanyaan berikutnya “dari mana uang
untuk membuat rumah sakit?” Allah Maha
Pemberi rizqi, bila kita sudah mengajukan proposal maka serahkan pada Allah,
Dia yang akan mencukupkan dan menunjukkan jalannya.*
Dan setelah beberapa proposal cita-cita diajukan dengan jawaban yang mirip seperti diatas, kakak dan adek kembali bertanya “Ma, bolehkah kami menjadi presiden?” Untuk pertanyaan ini saya agak kesulitan, akhirnya “dengar ya, mama mau bercerita, di dalam rumah ini mama bertugas mengatur keuangan, nah misalnya suatu hari baju kerja ayah sobek, sepatu adek robek dan tas kakak rusak, padahal uang yang ada hanya cukup untuk membeli salah satu dari 3 barang tersebut. Mama pasti bingung, ayah memerlukan baju untuk berangkat kerja, adek dan kakak membutuhkan tas dan sepatu untuk sekolah. Nah, akhirnya mama lihat baju ayah bolongnya dimana? Oh, bolongnya di pundak dan tidak bisa diperbaiki, sepatu adek masih bisa disolkan dan tas kakak masih bisa dibetulkan di tukang reparasi tas. Jadi, uang tersebut mama gunakan untuk membeli baju kerja ayah. Nah, itu baru 3 orang yang butuh, bayangkan kalau seorang presiden, rakyatnya ada 200 juta lebih, semua minta kepada presiden, ada yang minta jalan diperbaiki, ada yang minta ternak dan lain-lain. Kira-kira kakak dan adek bisa nggak mencari jalan terbaik untuk 200juta orang?” Finaly....“Pusing ya ma?” kata anak-anak.
Beberapa hari kemudian mereka kembali berkata “Ma, sekarang cita-cita kami adalah kami akan membuka rumah makan dan toko roti, kakak akan memasak dan adek melayani pembeli”.
Sederhana.... tapi #jleb buat mama, akhirnya mereka bisa
berpikir untuk membuka lapangan pekerjaan dan tidak mencari pekerjaan. Paling tidak sekarang anak saya mempunyai
keyakinan bahwa pekerjaan bukan hanya menjadi dokter, polisi, tentara atau guru
seperti cita-cita teman-teman mereka pada umumnya. Yakinlah nak, tangan yang diatas jauh lebih
baik daripada tangan yang dibawah. Kalau
bisa menjadi pemberi pekerjaan untuk orang lain di sekitar kita, untuk apa
menjadi pencari kerja di tempat lain? Walaupun
posisi ayah dan mama kalian saat ini bukan pemberi lapangan kerja untuk orang
lain, kami akan akan mendidik kalian supaya menjadi orang yang jauh lebih baik
dari kami dan memberi manfaat lebih banyak bagi orang lain. Dengan ijin Allah insya Allah semua akan
tercapai :)
Salam,
Akar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar